Rabu, 26 Januari 2011

WAKTU....


Kadangkala saat kita tertawa seperti ini, kita tidak tahu apakah tawa kita akan terus berlanjut sampai renta?

Ketika kusadari dan semakin ku menyadari, bahwa momen yang indah ini tak akan pernah terulang kembali. Yah setidaknya tidak akan sama persis. Walaupun kita ingin mengulangnya lagi, rasanya tetap akan berbeda. Karena manusia berkembang. Waktu terus bergulir. Dan sang waktulah yang membunuh semua kebersamaan ini dengan sebuah samurai perpisahan. Terkadang aku merasa bahwa waktu sama tidak adilnya dengan kesedihan. Di saat kita merasakan hangatnya kekeluargaan dengan perasaan yang selalu berbunga setiap saat, waktu telah merenggut semua itu dan menggantikannya dengan  kesedihan, dan kesedihan dengan sukarelanya hadir memberikan beribu airmata, menghapuskan pendar warna yang selalu terlihat di setiap kebersamaan kami.
Oh sang waktu, tidakkah kau melihat kami bisa menjadi kuat, hanya karena engkaulah yang menyatukan kami, kaulah yang memberikan kami ruang untuk bisa saling tersenyum menghangatkan, tapi kini kau jualah yang mencurinya kembali. Kali ini yang kau berikan hanyalah rasa kehilangan. Kau kosongkan hati ini, membuatnya dingin, pada akhirnya membeku. Jika kau berikan aku kesempatan untuk meminta, dapatkah kau menghadirkan kembali senyum yang dapat mencairkan hati yang telah lama kurasa sunyi? Kumohon jangan berkata ‘tidak mungkin’, karena itu kata yang paling tidak ingin kudengar. Hal-hal yang berjalan di hidupku saat ini selalu berotasi pada kata itu. Ketika aku mencoba meyakini sesuatu, ia datang menghancurkan rasa optimisku, menjadikanku manusia skepstis yang tak mampu hidup tegak dengan rasa percaya diri.
Waktu… dulu, saat aku masih bisa tertawa lepas dan ceria dalam kehangatan kami, tidak pernah aku berprasangka buruk padamu, bahwa kau akan merebutnya secara paksa dan memvonisku untuk merasakan kehilangan dan penyesalan yang amat sangat. Pahit. Jika kau mengerti, waktu.. tak akan pernah ada rasa sesal di hati ini bila kau pun tak memberiku kebebasan untuk melakukan hal bodoh. Tapi bukankah untuk itu pula kau diciptakan oleh Sang Maha Pencipta? Karena tanpa kau, keabadian semu tetap ada. Tak berubah.
Ada kalanya dalam raguku ingin berteriak. Karena aku cukup lelah menghadapi ini semua. Perputaran waktu yang semakin cepat, namun keadaanku yang stagnan, kerinduanku pada kehangatan, penyesalanku terhadap masa lalu, semuanya bercampur menjadi potongan-potongan puzzle yang berserakan dan tak pernah menjadi utuh, karena akupun tak menginginkannya.
Waktu… aku selalu berusaha menghindar dari kalimat ‘penyesalan’, tapi kenapa kau selalu mempertemukanku dengannya? Waktu
Jika kau mau menebusnya, suatu saat, kumohon pertemukan kami kembali...

Kamis, 23 Desember 2010

Kehilangan....

Berkali kali aku coba untuk mengalah, terus begitu, tapi rupanya ini dianggap kelemahan, sehingga kamu terus melakukannya, sudah cukup. Aku tidak percaya lagi dengan kata-katamu. Aku sudah tidak mengenal lagi dirimu. Semuanya antara kita kini asing. Aku tak lagi merasa dekat denganmu. Tak lagi ada rasa hormat. Tak lagi ingin mengagumi. Aku cukup menyadari dan bersyukur Allah masih mengingatkan aku akan kehilangan terbesarku. Dirimu. Aku kehilangan sosok pembimbing yang dulu begitu kupuja. Aku belajar banyak hal. Aku cukup berterimakasih padamu. Tapi aku tak akan lagi merasa harus mendukungmu dan semua idealisme palsumu! Maaf. Tapi aku hanya punya satu maaf untukmu. Jangan meminta lagi. Aku selama ini bertahan. Kutulis surat penuh kasih untukmu karena aku menyayangimu. Aku ingin mengingatkan bahwa apa yang kau lakukan selama ini salah. Kuakui aku seorang masih gadis kecil di matamu. Tapi aku, gadis kecilmu ini, sudah mengerti apa yang harus dia lakukan, ia sudah bermetamorfosis menjadi gadis matang, bukan hanya sekedar wanita lugu dan polos lagi. Kau yang mengajari aku untuk menjadi cerdas. Aku mengikutimu. Caraku dan caramu sama. Dulu. Tapi tidak ingin kuakui itu sekarang. Aku terlampau muak. Aku terlalu jijik untuk merasa mirip denganmu. Tolong mengerti. Kau sudah bukan siapa-siapa bagiku. Aku sudah lelah mencoba memahami akan semua topeng palsu yang kau kenakan, dan kini, kupilih jalanku sendiri.....

Rabu, 08 Desember 2010

Just be my self

Saat kita kecil, pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang dewasa adalah 'kalau sudah besar mau jadi apa??'
Ada banyak jawaban. Bermacam-macam. Tapi jawaban yang terbanyak adalah 'mau jadi dokter' dengan kepolosan yang sama. Hampir semua anak kecil bercita-cita seperti itu. Begitupun gw. Tapi sekarang, jika masih ada yang mengajukan pertanyaan sama,  gw akan jawab 'mau jadi diri sendiri'  dan berharap orang yang bertanya tersenyum puas dengan jawaban itu. Pikirkan.

Biarkan semuanya mengalun sesuai nada takdirnya. Aku tak berharap muluk, hanya bermimpi, namun tak ingin mimpi itu menghancurkan keteguhanku. Keyakinan akan tangan Tuhan yang akan selalu terulur ketika aku percaya pada ketetapan-Nya yang selalu akan menjadi hal terbaik.
Pernah gw mencoba bertanya pada diri sendiri, 'Apakah kamu percaya pada Takdir?'  dan jawaban yang kudapat 'aku masih bingung, dapatkah manusia mengubah takdirnya??'. Tak mudah untuk menemukan jawaban dari rasa ingin tahuku. Perlu perjalanan. Panjang. Penuh alang. Dan gw sama sekali masih jauh dari kata tercapai. Sampai sekarang terkadang gw sering merenung, apa yang membuat orang rela mengorbankan kedamaian hidupnya hanya demi harta?? Obsesi yang berlebihan terhadap kesenangan dunia. Padahal itu semua fana. Gw heran, kenapa anak-anak jaman sekarang saling berlomba dalam prestise, selalu menonjolkan status sosial. Pembicaraan mereka selalu soal harta yang padahal sama sekali bukan milik mereka. Gw selalu meracau sendiri, 'Woooy! Masih ngemis ama orangtua aja sombongnya tulung-tulungan lo!' ketika gw liat remaja-remaja ababil yang menenteng-nenteng provider ciri sosial mereka, memamerkan bahwa 'gue orang kaya', tapi pikiran mereka dangkal, wawasannya NOL besar, gak punya social sense, tapi omongnya besar minta diazab. Gw juga gak sempurna meeen, tapi seenggaknya gw gak selalu ngoceh 'gak ada waktu buat memikirkan oranglain'. Emang lo pikir lo hidup sama semut doang? Sadar doooong! Kalo lo mau hidup mengurusi diri sendiri aja, mending lo hidup sama serangga-serangga yang gak butuh bantuan lo.

Dan akhirnya gw pun mengerti. Bahwa sebenarnya hidup ini sederhana jika kita memandangnya dengan sederhana pula. Sementara sebaliknya pula, ketika kita memandang hidup ini sebagai keagungan dan kemewahan, gak akan ada habis-habisnya kita mengejar itu semua. Gak ada kepuasan sama sekali. Padahal keglamouran itu terus menerus selalu bertambah, sehingga ketika anda tak mampu lagi meraihnya, bersiap-siaplah untuk jatuh, amat dalam, anda akan terpuruk sampai-sampai anda menganggap bahwa kematian lebih baik bagi anda. Well, berbeda dengan orang yang memandang sederhana hidup, mereka adalah orang-orang yang selalu mensyukuri hidup ini. Ketika mereka jatuh, mereka yakin itu adalah anugerah dari Tuhan yang percaya pada kekuatan mereka menghadapi kerasnya kehidupan di tengah arus kemewahan dunia. Dan mereka merasa cukup dengan bersyukur. Sekarang anda tinggal pilih, mau masuk golongan yang mana. Semuanya hanya tinggal pilihan.
--end--

Semua manusia tercipta memiliki jalan hidup masing-masing. Tak selalu indah. Pasti suatu saat akan  kehilangan arah. Saat itulah manusia selalu mengeluh. Mencaci. Meratapi diri. Menyalahkan Tuhan. Memvonis Dia tak adil. Tak terkecuali. Sungguh semuanya pasti pernah mengalaminya. Merasa diri kita yang paling tidak beruntung, padahal Tuhan masih memberi kehidupan dan sudah seharusnya kita bersyukur. Hidup memang tak mudah. Sulit pun sebenarnya hanya hakikat. Namun sesungguhnya hidup ini sederhana, jika kita memandangnya dengan sederhana pula.  Makin dewasa manusia, semakin tinggi alang yang menunggunya. Tapi kita pun semakin kuat, semakin tegar, semakin menyadari bahwa sejatinya hidup adalah tantangan. Perjuangan. Pengorbanan. Pengabdian. Dan kita pun bisa memilih mau menjalaninya seperti apa.
.

*Jangan mengeluh. Karena kita tidak bisa memilih dimana kita dilahirkan. Bersyukurlah.  #untuk semua  orang yang merasa hidupnya kurang beruntung karena status sosial.

Selasa, 19 Oktober 2010

FUTUR

Pada siapa harus kuadukan dukaku?
Sementara sepi mendera jiwaku
ragaku pun tak mampu menepis lara yang menghantam dan meremukkan tulangku
Haruskah aku mencari pembelaan?
Namun, pada siapa?
Tak ada yang bisa meluluhkan nurani ini untuk dapat menitipkan kepedihan yang kurasa kian menjelma memutuskan asa
Diaini aku benar-benar belajar tentang hal-hal yang tak bisa kuraih hanya dengan sebuah senyuman
tak bisa kugapai meski bibir ini kelu hanya untuk menghiaskan kata 'maaf'

Rabbi, aku tau berjuta perasaan yang merajut benang-benang kusut dalam qalbu ini tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang telah kuperbuat untuk mengkhianati kemurahan-Mu
Apa dayaku bila Engkau telah berkehendak?
Jika ini bentuk pembalasan yang harus aku terima agar aku menyadari arti syukur yang seharusnya sudah sejak lama kupahami
maka kuikhlaskan segenap ruh ini untuk Kau uji dengan cobaan yang selayak-layaknya
Engkau tahu akupun lemah terhadap ujian-Mu, tapi Kau kuatkan aku dengan izin-Mu.
Subhanallah. Allahu Akbar.
Betapa aku kerdil di hadapan-Mu yaa Malik..

Jumat, 25 Juni 2010

Mengubah Sudut Pandang

Ada satu kisah yang bermanfaat yang ingin aku bagi dengan kawan-kawanku semuanya tentang bagaimana mengubah sudut pandang akan menghasilkan hal yang luar biasa.

Kisah ini tentang seorang ibu rumah tangga yang memiliki empat anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, dan kebersihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumahnya tampak selalu rapi, bersih, dan teratur. Suami dan anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.
Hanya ada satu masalah, masalahnya pun tidak terlalu besar, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalu karpet di rumahnya kotor sedikit saja. Kemarahannya bisa meledak dan terbitlah omelan-omelan yang berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet. Jika sudah begini, suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal dengan empat anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan tentu akan sangat menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum dan berkata pada sang ibu,
"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang saya katakan"
Ibu itu pun patuh. Dia menutup matanya dan bersiap membayangkan apa saja yang akan dikatakan oleh sang psikolog.

"Sekarang bayangkan rumah ibu yang rapi dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"
Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu tampak merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan, "Tapi, itu artinya tidak ada seorangpun di rumah Ibu. Tidak ada suami yang ibu cintai, tidak ada anak-anak yang sangat ibu sayangi, tak terdengar pula gurauan, canda, dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi"

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, Ibu melihat jejak sepatu dan kotoran disana, artinya suami dan anak-anak Ibu ada di rumah, orang-orang yang Ibu cintai ada bersama Ibu, dan kehadiran mereka menghangatkan hati Ibu "

Ibu itu tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut. 
Virginia Satir berkata, "Sekarang bukalah mata Ibu" Ibu itu pun membuka matanya.
"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat Ibu?"

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Aku tahu maksud Anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut pandang yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".


Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.

next*

Selasa, 22 Juni 2010

BULE HUNTER! :D

Kisah ini diawali dengan ide seorang Profesor Biting untuk pergi ke Kota Tua setelah selesai USM STAN tanggal 20 juni 2010, tapi jarak menuju Kota Tua sama dengan kita pulang malem melewati blok M dan kena macet berjam-jam, dan akhirnya kita memutuskan untuk mempendek jarak tujuan kita menjadi.. MONAS!
Dengan menaiki angkot ber-angka 05, berganti kendaraan menjadi metromini P71, *kita berenam, Riantoadi, Hilmanmaysa, Rindamayanti, Srifuji, Titakhaer and me, Sriemus mengawali petualangan ini, akhirnya kita sampai juga di halte busway di blok M dan harus mengantre selama sekitar 15 menit lamanya akhirnya kita dapet juga tempat duduk yang nyaman di dalam busway (dengan perjuangan yang menunjukkan khas kampungnya wkwk).* Oia, tambahan plus sopir busway yang.. Subhanallah.. adem sekali ngeliatnya (Ayu dan Tita type.red) haha ikhwan asli keliatannya. Dengan kehebohan di dalam busway apalagi tatkala melihat Bunderan HI keluar semua deeeh sifat-sifat aslinyaa, haha impian pertama setelah datang di jakarta : pengen foto di atas kolam Bunderan HI ! hahaha. *Sampe-sampe aku yang berniat tidurpun minta Miss. Rinda untuk membangunkanku. (dia punya impian yang sama konyolnya denganku soalnya hehe)

Finally, kita sampe juga di Halte Monas, turun di situ ngeliat orang-orang penggila Super Junior (eLf) yang diliat dari style nya sih abis ngadain gath gitu, alhasil ada Tita yang langsung ngebet pengen gabung disana *haha alay :p
Setelah melewati rombongan itu, kita pun menyeberang dengan niat mau masuk Monas baik-baik, eeeh gataunya kita ketemu godaan yang sangat menggiurkan, entah itu datangnya dari setan apa dari malaikat pembagi rezeki yang mau supaya kita ga keluar uang, yang jelas IDE BODOH nan KONYOL itu awalnya plagiat dari orang-orang yang masuk lewat celah-celah pager yang kebetulan lebih gede dari yang lain, jhahahah asli kocak abis, harus ngeliat wajah Tita dan makcik Srifuji yang pesimis mereka bisa masuk lewat situ, bener2 mengasyikan! lol
Tapi akhirnya kita semua bisa masuk lewat situ dengan tatapan mata orang-orang yang seolah-olah mengatakan, "pasti dari kampung" haha tapi no problem buat kita, toh kitapun mengikuti jejak salahnya orang-orang sananya juga, yah walaupun mungkin mereka orang lampiri (Indonesia) belahan sisi empat arah mata angin. hahaha. Well, kitapun masuk kesana dengan status palsu(Vidi Aldiano) alias "ilegal", anehnya itu semua ga ngurangin tawa kita yang terus-terusan ngocok perut lantaran ngerasa udah berubah dari kulit manusia menjadi kulit badak. lol. haha WE ARE THE ILLEGAL VISITORS ! :p

Setiba di Monas bak orang linglung yang penuh bingung tapi pura-pura beruntung kita pun muter-muter ga jelas di jalan menuju menaranya, niat kita sih pengen masuk dan naik ke atas, eeeh gataunya ngantrenyaaaaa.. amit amit dah! (sisi lain dari jakarta yang rada aku malesi). Kitapun memutuskan menyerah sampe disitu, untuk hal ini kita gamau nekat ambil resiko harus menganiaya kaki lebih dalam lagi cuma buat naik ke atas emas itu.

Oke okeee akhirnya kita cuma jalan jalan ga jelas sambil ngeliat liat tempat yang bagus buat foto. Tiba-tiba, gatau dari arah mana datengnya ada sepasang bule yang lagi jalan ngincig-ngincig, gayanya keren(kata yang lain, aku ga liat jelas), dan ide gila muncul lagi dari otak cemerlang(cuih) milik Rianto alias si Profesor, dia ngajakin kita ngajak ngobrol tu bule, dan Soheel langsung nolak mentah-mentah ajakan tu biting, padahal di antara kita berenam dia yang paling diharapkan buat bias ngobrol dan ga malu maluin depan tu bule. haha lewatlah sudah tu bule tanpa sempet kita sapa sama sekali, tapi rupanya Rianto si profesor pantang menyerah. Matanya langsung liar untuk menangkap citra yang dia cari, yaitu BULE ! hahaha

Finally dia dapetin juga dua orang bule, dua orang bapak-bapak yang lagi nyari posisi bagus buat motret, dengan mengumpulkan kekuatan, Profesor Rianto yang tidak didukung oleh Soheel memberanikan diri mengajak si mister untuk berfoto dengan kita semua, haha awalnya kita pura-pura ga kenal aja sama dia, biar pas si bule nolak, kita ga kecipratan malunya (haha jahat), daaaan surprise!! Rianto berhasil merayu mister bule itu, kitapun langsung diam sambil papelong-pelong, antara percaya dan ngga, setelah terbangun dari kesadaran yang hilang kitapun segera berlari mengambil posisi dan rebutan sebelah tu bule. haha sukses dari situ ternyata kita ketagihan foto bareng bule, itu karena bule yang tadi itu ga terlalu keren, bhahah timbul ide lebih konyol untuk mencari lebih banyak bule lagi yang mau diajak berfoto.

Sang profesor pun beraksi, matanya tambah liar mencari-cari dimana sosok jangkung berkulit putih dan berambut merah itu berada. Bule kedua adalah sepasang bule yang cantik dan ganteng tapi aga sedikit menggelikan, sekali lagi Rianto bersikap sok akrab pada bule itu, jadilah kita foto bareng sekali lagi. haha dilanjutkan pencarian berikutnya. Akhirnya mataku yang pertama menangkap bule cantik (aku liat dari belakang bule yg kedua itu) bersama dgn orang yang dicurigai sebagai 'guide' nya, kita berlari sampai melanggar batas tali jalan menuju taman untuk mengejar bule cantik itu, dan ngga sia-sia, sekali lagi kami berfoto. Disini bule yang paling baik deh (gara gara dipuji nice bag) haha. *Dasar pengen eksis, si Nda Rinda itu paling gamau gantian motret wkwk, dia paling banyak fotonya menurut pengamatanku karena kerajinan dia sebagai objek foto dan kemalesannya sebagai fotografer haha. Selanjutnya dapet lagi bule jangkung yang keliatan sedang sibuk tapi gak disangka! KOCAAAAK! He's funny. haha disini Soheel yang tadi males malesan udah mau sedikit sedikit ngomong sama tu bule. Sampai ke bule keren keempat yang jutek dan akhirnyaa kita dapet sepasang Austria yang paling disukai Soheel (alasannya cuma karna dia lebih jangkung dari tu bule) hahaha sampe sampe dia bilang, 'yes, akhirnya ketemu juga sama bule yang lebih pendek dari aku' haha ketauan deh alesan dia menentang keras berfoto sama orang BULE, dia ga suka ada BULE yang lebih jangkung dari dia! bwakakak lol

Finally, setelah kelelahan, kecapean, dan gatau malu diliatin orang-orang di Monas, akhirnya kita memutuskan untuk istirahat dan shalat di mesjid Istiqlal, sambil ketawa-ketawa ga jelas dan puas berhasil ngumpulin foto foto with bule, kitapun lunglai ke arah mesjid dengan perut kosong.*Setelah membersihkan diri di mesjid yang gedenya banget banget itu tapi sungainya kotor ga ketulungan, tiba juga saatnya bagi kita memutuskan untuk berhenti mendzalimi perut. Dengan berbekal perut keroncongan kitapun balik lagi ke tempat-tempat gerobak berjejer di depan Monas. Makan ketoprak yang mahalnya minta dibom tu gerobaknya, kita berlalu dengan tampang monyong Tita yang bersungut-sungut sepanjang jalan menyesali kehidupan di jakarta yang berbeda jauh dengan di Kalapagunung tempatnya dilahirkan (yaiyalah, make dibandingin segala wkwk). Kita kembali masuk ke Monas dengan harapan bertemu bule lagi (ga kapok kapok). Tapi berhubung waktu yang udah memaksa kita untuk segera menuju halte busway (kalo mau selamet pulang) akhirnya kita memutuskan untuk pulang dan OMG di jalan itu aku baru menyadari bahwa gelang warisan dari ibuku tercinta (hiperbola), RAIB!
God.. aku langsung lemes setengah idup disitu, dan dengan penuh harap bisa menemukannya lagi, ketakutan terbayang wajah tua nan keriput mama yang menangis pilu (Astaghfirullah aladziim.. ibuku masih cantik! :D ), aku mendramatisir kejadian itu dengan berbalik sendiri menyusuri tempat yang tadi dilewati sampai ke tempat makan yang bikin Tita gondok setengah mati. Tapi aku tak mendapati apa yang aku cari. Dengan memohon keikhlasan akhirnya lunglai akupun kembali dan mengajak semuanya pulang. T.T
Sampai di halte kita langsung mengambil tiket dan dapet busway secepetnya, daaan.. di dalem busway yang penuhnya amat sangat itu cuma Tita dan Makcik yang kebagian rezeki duduk, tapi ga lama kita semua pun bisa dapet tempat duduk. Di dalem busway yang walaupun kita kelelahan tetp ajaa ngocool ga keruan. Ngaler ngidul sampe dengan bodohnya kita ngebanding-bandingin Bunderan HI sama Bunderan Cijoho (Kuningan punya), dan tambah super idiotnya lagi ampe ngebahas Bunderan Linggarjati dan Bunderan Caracas (in cilimus.red) Nah, ini yang diperdebatkan oleh Tita Khaerun Nisa yang dengan tampang keukeuh nya bilang "di situ tuh ga ada bunderan, aku berapa kali lewat juga ga pernah liat!!" *sigh* Please deeeeh maaaak.. Aku juga yang ga terlalu sering lewat, bisa nyimpen tu tempat di memoriku (merendah sambil meningkatkan mutu) hahaha. Ga penting dan ga jelas, aku dan Makcik berusaha meyakinkan Mak Tita, akhirnya dengan tololnya pun kita mengakhiri pembicaraan itu dengan tergantung ga gamblang. Di Dukuh atas profesor Rianto pun turun. Finally kita sampai lagi di angkot metromini P71 dengan suguhan pengamen yah suaranya aduhaaai. (Tita dan Soheel menikmatinya, sementara Makcik dan Rinda diam seribu bahasa terkantuk kantuk). hahaha that's well.

Dipikir pikir lagi, ternyata kita sepakat untuk tema hari itu, "BERBURU BULE" hahaha. Dan dengan bangganya menamai diri sendiri "BULE HUNTER".

hahaha. Kapan kapan lagi yaa.
HAVE FUN abis dengan orang orang di atas ini. :p