Jumat, 11 Januari 2013

Yu Mar

YuMar. Berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk kembali berjalan sempurna membawa bakul gendong di atas punggung rentanya? Pengobatan demi pengobatan terus diusahakan. Segala upaya dicoba untuk dimungkinkan. Mulai dari kontrol ke Bedah Syaraf di Rumas Sakit Margono yang ditangani oleh dokter ahli syaraf dr. Agus, periksakan ke dokter praktek dr. An-Nur, pijat ke ahli pijat, terapi batu giok, sampai ke pijat dan obat-obatan herbal telah dilakukan. Kondisi Yu Mar berangsur membaik, meski beberapa kali sakit itu ia rasakan lagi. Kontrol rutin ke RSUD Margono selalu berbuah kesimpulan singkat namun jelas dari sang dokter: Oh, ini harus dioperasi.
Beberapa kali kami meyakinkan diri dengan berkali-kali menanyai lagi dokter yang menangani apakah Yu Mar tidak bisa hanya diterapi? Apakah memang sangat harus untuk operasi? Tidak bisakah mengusahakan fisioterapi? Sampai akhirnya jawaban yang didapat dari dokter berbeda yang mempunyai persepsi sama dengan yang sebelumnya adalah : yuk, ayo kita fisioterapi sampai kapok. Sebelum kapok jangan berhenti fisioterapi.
Deg. Ada kesadaran yang tertunda. Benarkah ini artinya bahwa hanya operasi yang bisa memungkinkan Yu Mar sembuh 100%? Jawabannya iya. Fisioterapi memang diperlukan, hanya saja itu pasca operasi dilakukan. Selain dari pada itu, fisioterapi tidak betul-betul menyembuhkan. Menahan nyeri dan meredakan untuk beberapa waktu tertentu mungkin iya. Tetapi tidak untuk bisa sampai kaki-kaki tersebut kokoh dan tak pernah merasakan nyeri lagi. Nyatanya, fisioterapi kebanyakan memakan waktu yang lama dan hasilnya pun tidak selalu sempurna. Sama halnya demikian dengan operasi yang memiliki dua kemungkinan, yaitu berhasil atau tidak. Yang namanya usaha atau ikhtiar, tentu tetap hanya Tuhan-lah yang menentukan.
Sementara ini, sembari menunggu uang untuk operasi Yu Mar terkumpul, beberapa pengobatan yang sedang dilakukan adalah obat dari RS dan dokter praktek, pijat dan obat-obatan herbal. Yu Mar mencoba memilah mana yang lebih manjur untuknya sebagai penahan beberapa lama atau selama mungkin yang dia harapkan. Dan akhirnya pilihan Yu Mar jatuh pada pijat dan obat-obatan herbal. Namun tentu saja, biaya untuk itupun tidaklah sedikit. Untuk ongkos pijat saja memakan cukup banyak di luar pembelian obat-obat herbal tersebut. Hal itu yang terkadang membuat Yu Mar agak kaku terhadap kami jika Yu Mar ingin meminta dipijat saat nyeri itu datang lagi. Namun Yu Mar selalu menemukan cara untuk mengobatinya meski terkadang ngeri karena sangat tradisional sekali dengan menggunakan botol air panas. Dengan kondisinya yang tidak memungkinkan berjualan selama hampir lebih dari satu semester atau sekitar enam bulan, membuat ia merasa kesepian.  Akhirnya sambil refreshing (bahasanya Yu Mar.red) Yu Mar mencoba kembali berjualan saat kondisinya sedikit membaik sambil menunggu tindakan operasi dapat dilakukan setelah dana terkumpul. Kami hanya bisa berusaha. Sekian.
Upaya pengobatan yang telah dilakukan:
Kontrol rutin ke margono ke bedah syaraf
Foto rontgen di geriatri
Foto RRI di geriatri
Terapi batu giok
Pijat tradisional
Obat-obatan herbal

Selasa, 17 April 2012

Kejamnya Persepsi Sakit, Sebuah Keterasingan Peran Sosial

“Bukan penyakit ini yang membuat kami sangat menderita, namun justru stigma masyarakat-lah yang membunuh kami..” (ODHA-Orang Dengan HIV AIDS)

AIDS. Menyeramkan rasanya mendengar sejumput kata ini. Entah darimana asalnya. Faktanya saat ini AIDS merupakan salah satu penyakit yang ditakuti sepanjang masa. Begitupun dengan disleksia, penyakit yang sebagian besar orang menganggap pengidapnya adalah orang aneh dan sakit jiwa hingga tak pantas untuk dijadikan teman. Sama halnya dengan penyakit yang sangat dianggap memalukan yaitu kusta, berapa banyak penderita kusta yang telah dibuang dan dijauhkan dari keluarganya sendiri. Takut. Semua orang merasa ketakutan. Para penderitanya diasingkan, bahkan dikucilkan.
Para penderita penyakit seringkali dianggap mengerikan oleh sebagian besar orang, hingga pada akhirnya timbul semacam diskriminasi terhadap kelompok  yang seharusnya didekati dan diselamatkan ini. Seperti yang diungkap oleh salah satu ODHA yang saat itu ditemui dalam sebuah seminar Peningkatan Kapasitas Ibu Rumah Tangga dan Remaja dalam Upaya Pencegahan HIV AIDS yang diselenggarakan oleh LPPM Unsoed, “Bukan penyakit ini yang membuat kami sangat menderita, justru stigma dari masyarakat-lah yang membunuh kami..”  betapa kata yang ia gunakan untuk menggambarkan bagaimana dampak stigma terhadap diri mereka begitu luar biasa. ‘Membunuh’, memang sudah tepat untuk menggambarkannya. Toh tanpa pandangan masyarakat pun lama-lama mereka tetap akan terbunuh, dan masyarakat telah membantu untuk tak hanya membunuh mereka secara fisik, namun juga peran dan status mereka dalam kehidupan sosial.
Fakta ini mungkin bisa menyadarkan kita, bahwa selama ini tidak pernah terpikir oleh kita untuk merangkulnya dan memberikan motivasi serta semangat, padahal justru itulah yang sangat mereka butuhkan. Hal itu tampaknya sudah menjadi hal yang biasa dan seakan tidak perlu diresahkan lagi. Lebih jauh dari itu, nampaknya hanya sedikit sekali yang masih peduli untuk memikirkan orang-orang tersebut. Nyaris bisa dihitung oleh jari. Kebanyakan masyarakat lebih suka menganggap mereka tidak ada. Justru disinilah letak kesalahan yang bisa menimbulkan kerusakan nilai dalam sistem masyarakat.
Sakit dan sehat itu hanya soal persepsi. Perilaku sehat diperlihatkan oleh individu-individu yang merasa dirinya sehat meskipun secara medis belum tentu mereka betul-betul sehat, begitupun sebaliknya. Orang yang sakit tidak dapat menjalankan tugas-tugasnya di lingkungan kerja dan keluarganya sehingga fungsinya itu harus digantikan oleh orang lain. Kadang-kadang peranan orang yang sakit itu sedemikian luasnya sehingga peranan yang ditinggalkannya itu tidak cukup digantikan oleh satu orang saja melainkan harus beberapa orang. Padahal orang yang berpenyakit, belum tentu orang sakit dan belum tentu mengakibatkan perubahan perannya dalam masyarakat. (Notoatmodjo & Sarwono, 1986)
“Kami mohon, jangan asingkan kami, jangan anggap kami lain..” inilah teriakan hati para penderita aids, disleksia, kusta, sakit jiwa, dsb. Ternyata sang penderita pun bisa merasakan bahwa dirinya telah dianggap ‘berbeda’, dan tendensi negatif telah melekat ke dalam diri mereka. Bagaimana seorang pengidap HV AIDS dikucilkan dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya, bagaimana si penderita disleksia yang sudah sulit dalam kemampuannya memahami tulisan harus disulitkan pula dalam memahami mengapa orang-orang enggan bergaul dengan dirinya, mengapa orang tuanya tidak mampu memahami kekurangannya, mengapa malah ia dianggap bodoh dan idiot oleh semua orang di sekelilingnya, bagaimana ia harus tertekan oleh semua sikap yang menjauhkannya dari akal sehat. Lalu bagaimana si pemilik kusta harus hidup sendirian demi orang-orang sekitarnya tidak tertular olehnya, bagaimana ia harus mengorbankan diri dan usaha kesembuhannya demi supaya tidak banyak lagi orang ‘menjelma’ seperti dirinya, padahal ia mampu keluar dari jerat penyiksaan terhadap mentalnya jika saja orang-orang mampu menerimanya dengan tangan terbuka dan menganggapnya sama, sehingga besar kemungkinan ia mampu memiliki semangat berjuang untuk sembuh. Masih ada lagi seorang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa, yang kebanyakan orang lebih senang menyebutnya ‘gila’. Bagaimana ia hidup telah betul-betul dilepaskan dari peran sosialnya. Dianggap gila, sinting, edan, dan semacamnya,  benar-benar divonis tidak mampu melakukan apapun layaknya orang sehat, dan tidak pantas menerima perlakuan lazimnya si sehat. Seringkali kita lihat bagaimana seorang sakit jiwa itu ditakuti, dianggap sampah. Hal ini juga tidak lepas dari peran media. Di media kerap digambarkan orang dengan masalah kejiwaan atau yang menderita skizofrenia secara salah, seperti menyebutnya orang gila. Dalam media penyiaran televisi mereka sering digambarkan sebagai pribadi yang kacau, berbahaya, dan perlu disingkirkan dari kehidupan sosial. (Kompas.com. )
Dari penggunaan istilah gila, sinting, edan, dan semacamnya saja sudah dapat terlihat stigma negatif sebagai contoh yang paling mudahnya. Padahal sebenarnya masyarakat mampu memperlakukan orang-orang ini dengan lebih baik.  Apabila opini publik yang terbentuk tidak seperti yang sudah tampak di masyarakat, sebagai contoh sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kalikarang, Purbalingga terhadap Jatru, salah seorang yang mengalami masalah kejiwaan disebabkan tidak mampu melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi, masyarakat di sekitarnya tidak ia menganggapnya orang gila, tidak ada perspektif buruk terhadap kegilaan terhadap apa yang dialami Jatru, sehingga Jatru hidup berkumpul dan bermasyarakat seperti yang lainnya, tidak ada yang memandangnya sebagai orang aneh dan semacamnya, hingga akhirnya ia pun mampu bekerja dan menjalankan peran sosial layaknya orang yang tidak memiliki masalah kejiwaan apapun, bahkan ia sanggup membantu masyarakat sama halnya seperti orang-orang sehat lainnya.
Dari sinilah mari berbicara seandainya, untuk pengidap HIV, seandainya saat itu memang dirinya betul-betul terkena virus HIV namun ia belum mengetahuinya dan tidak ada seorang pun yang tahu, akankah ia mendapat perlakuan semacam itu? Jawabannya tidak. Orang masih akan tetap menganggapnya sama dengan yang lain dan menjadi bagian dari masyarakat. Ia tetap bisa menjalankan peran sosial sebagaimana mestinya. Karena tidak tampak bedanya ia dengan orang orang lainnya. Namun berbeda ketika masyarakat tahu bahwa ia seseorang yang ‘sakit’ HIV, apa yang akan terjadi? Perlahan, ia dilepaskan dari peran sosialnya sendiri. Yang membuat ‘beda’ itu justru adalah masyarakat. Orang yang menilainya, bukan dirinya sendiri. Namun karena orang di luar sana telah memandang ia sedemikian rupa mau tidak mau timbul perasaan yang sama mengira bahwa dirinya berbeda dan telah menjadi lain dari orang-orang di sekitarnya.  Bagaimana bisa? Karena masyarakat disana sini memandang HIV AIDS itu lain, orang disleksia itu berbeda, penderita kusta itu bukan bagian mereka. Begitulah cara pandang masyarakat. Persepsi. Lagi-lagi ini hanya masalah persepsi. Sesuatu yang sebetulnya tidak ada.
Padahal banyak orang yang sakit namun tetap melakukan peran sosial layaknya orang-orang sehat pada umumnya. Mari kita tanya Che guevara, Che adalah seorang pengidap asma akut, namun lihat bagaimana Che tetap berjuang bahkan melebihi orang yang sehat sekali pun. Kita coba sapa panglima kebanggaan kita, Jenderal Soedirman, bahkan dalam keadaan sakit paru-paru yang parah pun ia tetap dengan gagah berani bergerilya menghadapi musuh-musuh bebuyutan negara ini demi kebebasan rakyat, demi merdekanya bangsa.
Dapatkah terlihat adanya pembeda disana, orang sakit pun mampu melakukan hal bahkan di atas rata-rata orang yang ‘katanya’ sehat. Saat orang-orang itu mampu melakukan hal lebih, mengapa justru peran mereka yang dihancurkan? Kesempatan yang seharusnya diberikan kepada mereka seluas-luasnya justru dirampas oleh sebuah vonis  ‘tidak layak’.
 Justru dengan adanya justifikasi semacam itu, mereka semakin merasa dijauhkan dari peran sosial yang seharusnya mereka jalankan. Haruskah mereka teralienasi dari kehidupan yang sewajarnya didapatkan?

*SMR

Senin, 09 April 2012

In my 20th

10 Maret 2012
Menjelang hari dimana aku tidak ingin segera melewatinya. Dalam kesendirian. Dalam kesepian. Aku ingin segera mengucapkan selamat tinggal. Atau selamat jalan. Tahun ke-20. Dimana 19 tahun aku masih mendapatkan do’a-do’a darinya, dan sekedar ucapan sederhana, atau bahkan uang saku untukku membeli kado ulang tahun sesukaku. Namun hari esok, saat menginjak bilangan setelah angka 19, aku harus tidak mendapatkannya. Kata pantas, mungkin cocok untuk menggambarkan perasaanku esok.
Aku sudah berusaha, menghindari kesedihanku harus terbit esok hari. Maka aku memikirkan untuk mengikuti kegiatan anak-anak himpunan Kuningan. Agar lupa aku pada lara. Agar tak sulit untuk menemukan pelipurnya. Aku tidak bisa tanpa kesedihan jika tidak disibukkan. Aku tercenung. Termenung sendiri. Jika sudah begitu, aku merasa akan gila. Pikiran demi pikiran kusut terus mendaki otakku. Apa yang akan dikatakan orang-orang? Ayu si lembek. Ayu si galau. Atau bahkan, ayu yang sok yes.  Tapi demi Tuhan, apapun yang mereka katakan aku tidak peduli. Bukan aku ingin diperhatikan. Sungguh, aku berani bersumpah AKU TIDAK SEDANG BERUSAHA MENCARI PERHATIAN, atau katakanlah apapun itu. Kadang aku tidak bisa mengerti mengapa orang menganggap aku hanya sedang bersandiwara. Bukan mauku seperti ini. Bahkan jika bisa, aku rela memberikan apapun agar aku terlepas dari semua kepalsuan yang mungkin kalian anggap. Tapi bahasaku, ini adalah penjajahan. Penyiksaan terhadap batin dan fikirku.
Namun pada akhirnya aku putuskan untuk batal pergi demi orang-orang yang sangat aku pertimbangkan perasaannya. Hanya sayang, semua tidak selalu indah seperti yang dibayangkan. Laraku tak jua lewat. Terus ia bersemayam dalam qalbu. Hingga aku sampai pada kesimpulan sepihak, seharusnya aku tidak berada disini. Bagaimanapun caraku agar keluar dari kepedihan ini, aku tak mampu menemukannya. Do something, but it’s feel nothing. Inilah yang sedang terjadi padaku. Pada jiwaku. Pada asaku. Aku tidak berharap orang lain bisa memahamiku. Tidak lagi. Karena aku telah sampai pada sebuah konklusi bahwa aku hidup hanya sendiri. Dan akan begitu hingga aku kembali pada pemilikku.
Ya, satu kata saja tak akan mampu menggambarkan betapa rumitnya sebuah hal saja terjadi padaku. Apa yang aku lakukan, dicerna berbeda oleh orang lain. Aku ingin menyerah terkadang. Tapi baru saja akan kulakukan, sesuatu memberontak di dalam diriku. Apa ini? Sebuah pertarungan di dalam pemikiran. Sebuah distorsi kognitif, jika dosenku mengatakan. Kontaminasi yang buruk memasukiku. Mengalienasikan kebaikan dalam diriku. Akhirnya, aku menjadi orang asing. Bukan ‘seperti’ lagi. Karena bahkan ‘telah’. Asing bahkan untuk mengenali diriku sendiri. Asing bahkan untuk memahami orang lain. Inilah klimaks dalam diriku.

Mentari...

Andai ada esok pagi yang lebih bersinar dibanding hari ini mungkin mentari yang enggan menunjukkan dirinya saat ini mampu muncul dan benderang saat pagi menjelang. Terkadang sulit untuk membayangkan jika hari esok lagi-lagi mentari tak bersinar, mungkin harapan pun sulit pula untuk terbit dari setiap jiwa manusia. Begitu dengan harapan di hati ini, tiada, dan memang tak ada. Hampir pasti pahit ini telah kutelan dalam rasa. Menyadari akan banyak hal yang terabaikan, ada banyak kerinduan yang tak tersampaikan. Sulit untuk kupahami, ada banyak yang acuh dan diacuhkan. Ternyata sebuah penguatan terhadap diri ini tak akan mampu menghapus pilu yang terlanjur hadir tanpa ragu. Seakan tiada lagi belas dan kasih yang bisa ia berikan pada jiwa yang tak pernah kuat ini. Asa, mampukah mengalahkan semua kenyataan yang sebelumnya dirasa tak memihak??? Malu ku nyatanya lebih kuat dibanding apapun, meskipun itu sebuah kebaikan yang dapat terpancarkan andai harus melakukan pembelaan terhadap pengkhianatan. Tapi adilkah itu??? 

Kamis, 01 Maret 2012

11 Februari 2012
Dekan FEUI : Kepada para pendamping, orang tua, pacar, calon pacar. Para mantan mahasiswa calon sarjana, dimohon untuk berdiri dan memberikan applause untuk para orang tua kita di luar... Karena tanpa kasih sayang mereka, kalian tidak akan berada disini...
Ssrr.. Cucuran air mata jatuh di kedua pipi Ibuku...

Akbar Nikmatullah (mantan Ketua BEM FEUI) : Motif salah satunya dari semua teman-teman disini adalah untuk mempersembahkan kebanggaan bagi para orang tua... Dan bersyukurlah bagi semua orang tua yang diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melihat para anaknya dengan penuh kebanggaan. dan bagi orang tua yang tidak diberikan kesempatan, saya yakin, dimanapun mereka berada, mereka melihat, bangga dan terharu anaknya disini telah lulus menjadi sarjana FEUI.
Tess... Airmata kedua menggenang di pelupuk mata ibuku.

18 Februari 2012
Lihatlah Apa, kau saksikan anakmu berdiri disana memakai toganya dengan penuh kebanggaan. Jerih payahnya selama ini telah berbuah kesuksesan meraih gelar sarjana ekonomi. Pernahkah kau bayangkan di masa hidupmu bahwa ia berdiri disana tersenyum lega penuh bahagia tanpa kau di sampingnya? Bisakah kau rasakan kebahagiaannya bercampur dengan kegetiran dan mungkin sedikit penyesalan karna tak sempat ia dapatkan peluk kebanggaan dan airmata penuh cinta dibasuh haru darimu? Apakah mungkin kau disana ikut tersenyum bahagia melihat putra kebanggaanmu ini berhasil mendapat ijazah dari Universitas Indonesia 20 hari pasca kepergianmu? Apa boleh aku punya penyesalan serta tuntutan dalam pertanyaanku, 'mengapa secepat itu?'
20 hari dari masamu, putramu akan mengalami hari yang paling membahagiakan dalam sejarah hidupnya. Paling bahagia? Ya. Seharusnya. Jika kau ada disini. Jika kita lengkap. Takdir? Bukan. Ketetapan Tuhan? Ya. Aku terima.

Sabtu, 07 Januari 2012

Akhir lembar pilu. Janjiku.

25 desember 2011
Apa aku punya kesempatan untuk melihatnya terlepas dari penderitaan ini?
Apa aku akan bisa menyaksikan kebahagiaan yang telah lama tidak ia cicipi?
Bagaimana caraku untuk bertahan?
Apa aku sanggup terus menerus dalam kesakitan ini? Kesakitan karena harus menerima belas kasihan dari semua orang. Padahal aku selalu ingin menjadi cahaya dalam kegelapan bagi mereka, namun kenapa malah aku yang terkurung dalam gelap?
Begitu menyedihkan. Begitu malu diri ini. Pada diri sendiri, pada Tuhan, pada mereka yang tidak pernah mengeluh meski nestapa telah lama bertapa dalam kungkungan derita hidup.
Tuhan, berikan cara, berikan kesempatan, kekuatan untukku mampu mengucapkan selamat tinggal pada keputusasaan.
Pertanyaan mengapa seperti ini, mengapa aku dan keluargaku, mengapa tak kunjung usai, apa harus terus menerus bersemayam dalam hati dan fikriku?
Saat aku bersyukur, cobaan kembali datang, jauh lebih hebat, aku meyakinkan diri bahwa aku kuat.
Namun timbul pertanyaan lain, apakah aku betul-betul kuat, ataukah hanya pura-pura kuat???

26 desember 2011
Bila masaku telah habis untuk mengecap pahit kehidupan ini, akan kuceritakan pada siapapun yang mau mendengarnya, inilah hidup.... selalu ada persaingan dalam setiap episodenya. Persaingan untuk berjuang, bertahan, dan menjadi pemenang. Bagaimana akhirnya diriku? Akankah menjadi pemenang dan memenangkan pertarungan melawan ketidakberdayaan? Ataukah kalah dan tak mampu mengalahkan samurai peperangan hidup, yakni kesusahan? Jadikah aku seorang pecundang?

Jumat, 06 Januari 2012

Ayah...

9 November 2011
Kupandangi wajah tuanya yang semakin tirus. Tubuhnya hanya dilapisi kulit tipis dengan tulang yang menonjol disana-sini. Dia tampak gemuk. Ya, di beberapa bagian. Bukan karena lemak daging yang sehat. Namun cairan dari kantung kemihnya yang pecah menyebar di beberapa bagian tubuhnya secara tidak merata. Perutnya membesar. Disitulah tempat paling utama cairan itu berkumpul. Cairan itu berhasil membengkakkan kakinya. Seakan seluruh bebannya bertumpu di kaki. Dari lingkaran perut hingga ke punggung cairan itu mampu membuat bagian disana keras dan sulit untuk disentuh. Bagian perut hingga bawah yang tampak membesar itu betul-betul tidak seimbang dengan lengan hingga atasnya yang telah habis dikhianati penyakit. Sungguh miris melihatnya. Ia telah kehilangan keperkasaannya yang dulu sempat sekedar mampir di hidupnya. Aku merasa sangsi. Lelaki inikah yang dulu menggendongku dengan rentangan tangannya yang kekar? Diakah laki-laki gagah yang dulu mengajakku berlibur setiap akhir pekan? Tuhan... kuraih tangannya dan kucium pipi serta keningnya.
Kurasakan jemarinya yang kurus dan tanpa daya. Ia berkata-kata, namun matanya lebih menjelaskan banyak hal. Aku tahu  kelegaannya melihatku. Ekspresinya sedikit melunak dari wajahnya yang tampak mengeras menahan sakit. Nafasnya satu per satu. Keluar melalui mulut hingga mengeluarkan suara tidak enak dari hidungnya. Rupanya cairan itu membuat satu-satunya lelaki dalam hidupku ini sulit bernafas. Aku menamainya cairan laknat. Si laknat ini telah memenuhi paru-paru ayahku. Aku membisu. Kualihkan perhatianku pada perempuan paruh baya di sampingnya. Ia tersenyum letih. Aku menghampirinya. Ia memelukku hangat dengan kata-katanya yang lembut. Kurasakan tulangku langsung bersentuhan dengan tulangnya. Bahunya tidak berdaging. Wajahnya tak kalah tirus dengan ayahku. Tulang pipinya menonjol. Matanya cekung ke dalam. Tampak jelas gurat kelelahan luarbiasa disana. Namun kekuatan dan ketegaran terlihat dari pancaran matanya yang teduh dan senyumnya yang berusaha tetap ia tampilkan. Suguhan yang memilukan.
Aku keluar dari pemandangan itu segera. Amat takut mataku terlihat basah, namun beruntung hujan telah menyamarkannya. Aku berkeliling rumah. Kosong. Bahkan suaraku menggema di ruangan manapun. Bau rumah ini khas. Parfum yang biasa tercium di rumah sakit. Ya, bau obat, bau pesing dan semacamnya. Tentu saja, rumah ini sudah seperti rumah sakit dengan ibuku sebagai perawatnya. Beruntung ia seorang yang hebat. Bagiku, ia adalah wanita multitalent. Bukan karena ia wanita jaman sekarang yang berkarir dalam segala hal. Namun karena bakti dan pengabdiannya kepada keluarga. Ia bisa berperan sebagai ibu bagiku, isteri bagi ayahku, sebagai anak untuk nenekku, dan sebagai perawat bagi keduanya. Ia adalah simbol ketabahan tiada tara. Kesabarannya tak memiliki batas. Aku sungguh ingin sepertinya. Aku bersyukur memilikinya. Perempuan itu tidak pernah mengeluh atas hidupnya, tak pernah menyerah pada nasibnya. Hidup bersama seorang suami yang menderita sakit selama empat belas tahun bukanlah yang yang mudah dijalani setiap wanita. Tapi ia berhasil membuktikan ia mampu melakukannya. Sungguh, padahal hari-hari berat yang ia lalui tak kunjung berakhir. Sudah tak kuasa berkata apalagi rasanya jika teringat wajahnya yang semakin lelah.
Tuhan.. sampai kapan semua ini harus kami jalani?
Awal semester kuliah yang begitu berat bagiku. 2011 penuh duka untuk keluargaku. Di tahun ini entah sudah berapa belas kali Ayahku bolak balik menghuni bangsal-bangsal rumah sakit. Menjalani operasi yang berat di ibu kota. Menghabiskan banyak waktu untuk pemulihan, namun kesembuhan itu tak segera datang. Hampir putus asa aku dibuatnya. Biaya berpuluh-puluh juta habis untuk pengobatan. Mungkin sebagian simpanan untuk kuliahku.  Aku ikhlaskan. Bahkan sejak mengawali 2011 dengan kondisi ayahku yang seperti itu, aku telah bersiap. Sejak aku mengikuti ujian SNMPTN sementara ibuku berdo’a tiada henti untuk ayahku yang dalam keadaan tidak sadar di RS. Saat anak-anak lain diantar ke tempat ujian dan disemangati oleh para orangtuanya dengan keceriaan mereka. Dalam kepahitan itu aku sadar, aku sudah harus mandiri. Aku tidak boleh bergantung pada orangtuaku. Kucari sendiri dimana motivasi untukku bertahan. Akhirnya aku sadar, aku hanya boleh mengandalkan diri sendiri. Aku tidak bisa menyimpan asaku pada orang lain. Biar hidupku berjalan tetap pada relnya. Sehancur-hancurnya diriku, dalam kondisi apapun aku harus meyakinkan diriku sendiri bahwa aku mampu. Bertahan dalam ketiadaan. Berdamai dengan keterbatasan. Aku tidak bisa membawa lari masalahku pada keluargaku sendiri. Sudah terlalu banyak beban yang mereka tanggung. Ibuku... kakak-kakakku. Aku mengerti mereka sudah cukup diuji. Maka aku hanya bisa sendiri. Terpekur dalam kebimbangan menentukan jalan.

10 November 2011
Kuamati ia ketika tidur. Mulutnya terbuka. Racauannya tidak jelas. Seakan berbicara dengan seseorang dalam imajinasinya. Semakin kudengarkan baik-baik ternyata ia sedang mengoceh tentang masa lalunya. Seolah rekaman kaset masa lalunya diputar kembali. Tangannya tidak mau diam. Terus bergerak mengikuti bibirnya yang tak henti meracau. Aku enggan untuk menangis. Sudah cukup rasanya. Dokter bilang cairan itu telah pula masuk ke otaknya dan mengganggu fungsi syaraf otak hingga membangunkan memori masa lalunya,masa dimana yang paling ia inginkan kembali. Aku menghela nafas panjang. Betapapun inginnya aku menyabarkan dirinya, namun batal oleh rasa ketidakmampuanku menjawab kemauannya. Kulihat ia tampak meringis. Tangannya memegangi paha kurusnya. Tampak hati-hati di bagian itu. Ibuku bilang, buah zakarnya pun telah membesar bagaikan sebuah balon. Cairan itupun ternyata berani masuk kesana. Itu sebabnya ia sulit untuk duduk, berjalan, bahkan tidur nyenyak.  Terkadang ia terbangun dan merasa sesak, ibuku segera memasukkan selang oksigen untuk membantu ia bernafas. Sungguh aku merasa geram. Apa maunya laknat itu?

Kuoleskan lotion ke seluruh permukaan kulitnya yang kasar. Menyentuhnya seperti memanjakan ular bersisik. Hatiku teriris. Ketika sampai pada bagian tubuhnya yang keras, ingin rasanya aku membeleknya, mengeluarkan cairan itu dari sana. Kupijat lembut kakinya yang sudah sangat bengkak.  Tempurung lututnya kini seperti kelapa berukuran besar  yang telah dikupas cangkangnya. Telapaknya ikut membesar, jari-jari kakinya tak mampu digerakkan. Masih tampak jelas tanda bekas operasi pada punggung kaki kirinya. Disitulah tempat rasa sakit tak berani mengusiknya. Mati rasa. Begitulah. Semut yang mengerubungi saat kakinya diinjakkan di ubin pun tak dirasanya.
Fokusku beralih ke kepalanya. Kutelisir rambutnya yang telah menipis. Mencari helai demi helai yang berwarna putih. Kulihat telah banyak disana. Biasanya tak sebanyak ini. Rupanya usia telah memudarkan si hitam. Kini putih ingin menggantikannya. 55 tahun. Dengan 14 tahun yang ia habiskan untuk melawan penyakitnya ini. Rasanya sungguh wajar jika ia telah kehilangan banyak perhatian untuk hal-hal kecil. Cermat kuambil satu per satu helai putih itu dengan menggunakan vinset. Aku sudah berkali-kali mengingatkan ia untuk tidak mencabutinya. Biarlah rambut putih itu menerangi kuburnya nanti jika ia seorang yang soleh. Namun ia bersikukuh. Pengalih perhatian, ia beralasan. Tipis sudah kini si hitam ikalnya.

11 November 2011
Perlahan kuraih tangannya dan kupegangi dengan erat. Kuamati kuku-kukunya yang mulai memanjang. Kuambil catut untuk memotongnya. Kuusap-usap pergelangan tangannya. Sedang membandingkan. Apa bedanya dengan tangan kurusku? Mungkin bedanya hanya, aku masih sanggup dan kuat sekadar mengulurkan tangan, sedang ia tak mampu. Satu per satu kubersihkan kuku-kuku panjangnya yang berwarna kekuningan. Buah dari hepatitis yang turut mencintai tubuhnya. Hati-hati kuku demi kuku kupotong rapi, jika sampai ia terluka akan bahaya untuknya. Sedikit luka saja akan membuat masalah baru. Itulah kejamnya diabetes mellitus. Ah! Tanpa sadar aku mengenai kulit kukunya yang lunak. Darah langsung merembes keluar. Tuhan.. kulihat segera wajahnya yang tertidur namun tak nyenyak. Tak ada perubahan sama sekali. Tak ada kernyitan, rintihan, gumaman atau apapun. Ia tak merasakannya. Bergegas kuambil kapas dan rivanol. Kubersihkan dan kutekan agar darah segera berhenti. Untung hanya luka kecil sama seperti yang keluar setiap kali ia cek gula darah. Aku bernafas lega.

Tiap malam aku hampir tidak dapat tidur pulas. Rumah ini tidak bisa memberikan ketenangan yang diinginkan penghuninya. Dengan suara ayahku yang merintih dan berdzikir melawan rasa sakit, aku betul-betul tidak mampu untuk tidur nyaman. Terlebih aku tidur tanpa memakai selimut dalam hawa pegunungan ini. Semua selimut di rumah dipakai untuk ayahku yang selalu merasa kedinginan. Jika sudah begitu aku segera beranjak dari tempat tidur, kuambil air wudlu yang sedingin es. Aku tak berani masuk ke kamarnya sekalipun ingin. Aku takut ia merasa lebih tersiksa karena sadar suaranya telah mengusik tidur yang lain. Aku tak mau lagi melihat kesedihan di mata tuanya. Tak sanggup lagi tegak untuk sekedar melihat langsung wajah sakitnya. Rasanya ingin sekali membagi rasa sakit itu. Jikalau bisa, biarlah tubuh ini yang merasakan derita, supaya satu malam saja ayahku bisa tertidur lelap, tenang dan mengecap indahnya mimpi sehingga sejenak ia bisa terbebas dari nestapanya. Tuhan... jika azab di dunia saja sudah sedemikian rupa, bagaimana dengan azabMu di akhirat nanti? Aku hanya berdo’a semoga dengan sakitnya ini Engkau telah membersihkan dosa-dosanya dan menggantikannya dengan pahala sebagai hadiah atas kesabarannya. Amiin. Cukup di dunia saja Tuhan. Hatiku terlampau pilu demi menyaksikan ini semua.

12 November 2011
Tiga hari saja di rumah menimbulkan kelelahan yang tak ringan. Rasa capai yang melebihi dari mengurus bayi. Benar ibuku bilang, masih lebih mudah merawat cucunya dibanding ayahku. Aku semakin kehilangan kata-kata untuk menggambarkan betapa letihnya menjadi ibuku. Jika membayangkan ia yang sendirian membopong ayahku kesana kemari dengan berat badannya yang hampir 80 kg, rasanya sulit untuk menahan tangis yang sudah pasti pecah. Dengan tubuh sekurus diriku, mampukah ia menjalani ini sendirian? Sempat terbersit dalam pikiranku untuk tetap di rumah menemaninya merawat ayah. Biar saja aku yang mengalah untuk memulai kuliah disini. Biarlah aku segera terbangun dari mimpi besarku. Yang harus kuhadapi adalah dunia nyata. Bukan bumi khayalan semata.  Aku harus menyadari keadaanku sekarang. Meski jauh dari apa aku bayangkan dan kuinginkan, namun setidaknya aku akan mampu menjemput kebahagiaanku dengan jalan yang lain. Mengabdikan hidup pada orangtuaku mungkin bisa jadi jalan menuju itu. Sebagai wujud baktiku pada mereka, aku ingin menemani ayahku hingga betul-betul sembuh. Rasanya setiap detik waktu berharga untuk bisa lebih lama bersamanya. Aku merindukan ayahku yang dulu. Yang mampu berjalan tegap dan tidak pernah berdiam diri di rumah. Yang tak pernah kehabisan ide untuk bepergian. Yang selalu mengajakku berdua berjalan-jalan mencari bibit-bibit tanaman dan pohon. Aku rindu ayahku yang selalu menyetir sendiri kemanapun ia pergi, yang selalu mengambil raporku ke sekolah, yang mengantar jemputku ke tempat kegiatan-kegiatan yang aku ikuti. Aku rindu ayahku yang menasihatiku setiap kali aku pulang larut
 Aku merindukan shalat berjamaah yang rutin kita laksanakan dulu. Aku rindu kau menjadi imam keluarga kita. Aku rindu taushiyahmu tiap kali kita selesai shalat berjamaah. Aku rindu ayat-ayat kauliyah yang kau bacakan dalam shalatmu, rindu pada suara lantangmu ketika mengimami dan ketika mengaji. Aku rindu mencium tanganmu setelah selesai shalat. Sungguh aku rindu menjadi shafmu. Aku rindu...
Kini, untuk bangunpun kau tak mampu. Shalatpun tak lagi bisa kau kerjakan. Lima tahun sudah tak pernah lagi ada rutinitas itu. Dan aku melihat tahap perubahan itu. Dari mulai kau sudah tak lagi mampu shalat berdiri, sehingga kau lakukan sambil duduk, hingga kini kau hanya bisa berbaring. Tahun lalu kau masih bisa mengikuti shalat ied meski hanya sambil duduk. Tahun ini kau duduk di kursi roda, dan saat semangatmu membara untuk shalat ied, segera kau menyadari bahwa kau tak mampu. Kulihat wajah sedihmu yang membiarkan kami semua pergi untuk shalat. Itu membuat hatiku pedih. Saat kita foto keluarga bersama, tahun ini dan tahun lalu masih tetap sama. Kau dan ibu duduk di depan, sementara kami anak-anakmu berdiri di belakang, sama aja. Sekilas memang sungguh tampak sama, tapi begitu jeli lagi, lihatlah kursi yang kau duduki, berbeda. Sekali lagi kukatakan, tahun ini kau duduk di kursi roda, bukan kursi biasa lagi. Kini hatiku menjerit. Aku tahu waktu tak mungkin bisa diputar kembali, tetapi bukankah kita bisa tetap mengubah keadaan sama seperti dulu, bahkan lebih baik? Bukankah kita bisa membuat moment yang lebih indah? Aku mau mengukirnya kembali. Sangat ingin. Kau pun tentu ingin kan? Baik, aku akan menunggu. Akan kutunggu kau kembali perkasa. Sama seperti dulu. Ayah.......
kembalilah mendampingi isterimu seperti ini

Senin, 24 Oktober 2011

Romantisme-ilusi => Kritisme-f

Ini cerita bukan sekadar cerita. Ini penuh dengan romantika kehidupan, tapi bukan hanya sekadar romantisme kesadaran palsu, ataupun romantisme ilusi lho. Ini semua cerita indahnya kita para pemilik mimpi dan cita-cita besar, ciee. Mungkin tidak semua orang bisa mengerti, tapi ya lah tidak ada salahnya kawan kalian membaca coretan ini. Aku ingin mengatakan bahwa ini adalah sebuah tulisan, tapi beh malunya minta ampun kalau aku mesti bilang ini sebuah karya, ssst masalahnya adalah salah satu tokoh dalam cerita ini seorang penulis besar men! Penulis besar! Nanti akan aku ceritakan belakangan. Well, mari kita simak.
Berawal dari sebuah cita-cita besar dan loyalitas mahatinggi yang dimiliki oleh seorang kakak kelas kita, Susan Agustin, yang setiap saat selalu mencekoki kita semua untuk ikut simposium nasional di UGM, akhirnya kita pun terpedaya oleh semua rayuannya. Cus.. berangkatlah kita dengan persiapan cukup matang, dengan berbekal seorang filsuf yang dengan sengaja dibawa untuk menyerang acara itu, kitapun melangkah maju.

Senin, 17 Oktober 2011

Tulisan Pertama Anak Magang

Merdeka, seperti apa?
Oleh : Srie Mustika Rahayu
Kemerdekaan bukan saja ketika merah putih mampu berkibar,
namun ketika penindasan tak lagi berkobar
Anak kecil itu manis. Senyumnya cukup menawan walau sang kotor telah mengkhianatinya. Telapak tangannya menghadap ke atas, dengan wajah yang penuh coreng, lirih ia berbisik, “Mbak, minta uang mbak..”
Di taman kota. Pemandangan seperti ini menjadi hal yang terlalu biasa bagi mata kita. Ada yang lainnya. Begitu banyak malah. Miris menjadi perasaan yang begitu klise. Ini baru di satu kota. Entah berapa banyak lagi anak-anak yang seperti dia di belahan bumi yang lainnya. Tak perlu jauh-jauh, Indonesia saja. Betapa untuk menghitungnya pun rasanya butuh kesabaran yang luar biasa. Bagaimana bisa anak-anak sekecil itu sudah dididik untuk meminta-minta? Disaat seharusnya mereka duduk manis di kelas, memperhatikan guru mengajar, bermain dengan lincahnya, mereka malah berada di jalanan yang panas, beralaskan kulit telapak kaki. Dimana orang tuanya ketika itu?
            Negeri ini tampaknya belum mampu mewujudkan cita-citanya. Apa yang tercantum dalam undang-undang dasar 1945 sepertinya masih jauh dari kata ‘tercapai’. Merdeka, dimana realisasinya ketika masih ada penjajahan terhadap budaya, ideologi dan identitas bangsa? Bersatu, banggakah bangsa ini disebut sebagai bangsa yang bersatu sementara masyarakatnya apatis, satu sama lain saling menjatuhkan? Berdaulat, kedaulatan seperti apa yang selama ini disajikan oleh para penguasa? Adil, pantaskah negeri ini berbicara tentang keadilan sedang banyak warga Negara yang tidak mendapatkan pekerjaan yang layak dan pendidikan yang tinggi? Makmur, bisakah kita melihat kemakmuran di negeri ini ketika rakyat yang miskin dan kelaparan semakin bertambah jumlahnya?
            Lalu apa artinya semua yang selama ini mereka dengungkan? Apakah para wakil rakyat itu sudah menjalankan fungsinya dengan baik? Benarkah mereka betul-betul memikirkan rakyat? Apa hanya untuk menyejahterakan diri mereka sendiri? Lantas kemana lagi rakyat yang dirampas haknya harus meminta keadilan? Pada siapa lagi mereka mengadukan perlakuan yang mereka terima dari tanah air mereka sendiri? Bukankah ibu pertiwi akan marah melihat negerinya ini?
            Ada begitu banyak orang yang berteriak atas nasib mereka yang tertindas, namun lebih banyak pula yang bersikap acuh tak acuh. Apa jadinya bangsa ini ketika sudah tidak ada lagi kepedulian disini? Bangsa yang selalu bangga dengan demokrasinya. Bangsa yang ‘katanya’ menjunjung tinggi hak asasi manusia. Bukankah pantas kita mempertanyakan perwujudan dari dasar negara kita? Jika kita flashback ke belakang, tentang bagaimana rumitnya para pendahulu kita merumuskan dasar Negara dengan begitu beragamnya ide dan pemikiran, maka sangat mustahil kita tega mengingkarinya. Mengambil salah satu sila dari dasar Negara yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, rasanya masih perlu perjuangan yang berat untuk dapat mencapainya.
Realistis saja, kita sendiripun masih selalu bingung jika ditanya tentang keadilan. Merasa sudah adilkah kita ketika bergumul dengan kegiatan kampus, berkutat dengan tugas-tugas, asyik menjalani kehidupan sebagai seorang ‘mahasiswa’, sementara di luar sana ribuan bahkan jutaan anak seusia kita hanya mampu melakukan semua itu dalam mimpinya? Lebih tragis lagi anak-anak yang bahkan untuk bermimpi sajapun mereka tak mampu.
            Maka, dapatkah sekarang kita mengatakan bahwa Negara kita sudah merdeka? Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka dari penjajahan? Belum kawan. Kita belum merdeka. Leluhur kita Jenderal Soedirman pernah berkata, “Lebih baik dihujani bom atom, daripada merdeka kurang dari 100%”. Menjadi tugas kitalah sekarang sebagai seorang pemuda tunas bangsa untuk memerdekakan bangsa ini. Melanjutkan perjuangan para pahlawan kita, tanpa darah dan senjata lagi.
Tugas para pahlawan dahulu adalah mudah, hanya mengusir penjajah. Tugas kitalah sebagai generasi penerus yang tak mudah, yakni mempertahankannya. Begitulah Soekarno pernah mengungkapkannya. Jadikan bangsa ini sebagai bangsa yang merdeka dalam substansi yang sesungguhnya. Jika Soekarno bisa mengatakan, “100 orang tua hanya bisa bermimpi, 1 orang pemuda bisa merubah dunia”, maka apa alasan kita untuk tidak percaya pada kekuatan kita sebagai seorang pemuda??
            Jangan pernah membiarkan penjajah memasuki tanah air ini. Jangan biarkan merah putih terluka lagi. Jangan biarkan identitas kita dijajah, budaya kita dijarah.
“Mereka tidak dapat mengambil harga diri kita kalau kita tidak memberikannya kepada mereka” –Mahatma Gandhi-

Minggu, 24 Juli 2011

Untukmu yang kehilangan semangat juang

Teman,
Ketika kehidupan memberi kita seribu alasan untuk mengeluh,tunjukkan bahwa kita memiliki sejuta alasan ntuk semangat.
Jangan lemah teman,masalahmu belum seberapa.
Semua masalahmu sudah diukur oleh Allah,
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya" (QS Al-baqarah : 286)

Tetaplah bekerja keras teman
"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan),tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)" (QS Al-insyirah : 7)
Semua orang sukses adalah mereka yang bekerja lebih keras dari biasa.
Mereka yang belajar lebih keras dari biasa.
Mereka yang bangun lebih dini dari biasa.
Mereka yang rela keluar dari zona nyaman.
Mereka yang paham betul makna hidup itu sejatinya memang perjuangan,

Karena mereka tahu dan paham betul pepatah "Berakit2 kehulu berenang-renang ketepian,bersakit-sakit dahulu bersenang2 kemudian"
Berjuang,berjuang,berjuang,
karena hidup itu adalah perjuangan.
Tidak berjuang,berarti tidak hidup.

Meskipun demikian,
Tidak semua orang yang berusaha keras itu akan sukses...
Tapi semua orang yang sukses itu berasal dari usaha keras...
Tetaplah berjuang...meski kerap kali menelan pil kekalahan...
Tetaplah semangat...meski rasa malas semangat menyemangatimu...
Tetaplah berdoa...meski malaikat mendoakanmu...
Tetaplah berharap...karena harapan itu masih ada...

Lebih baik banyak menangis sekarang...
sebelum tangisan itu tiada lagi berguna...

"teruslah bergerak,hingga kelelahan lelah mengikutimu..
teruslah berlari hingga kebosanan bosan mengejarmu..
teruslah berjalan hingga keletihan letih bersamamu...
teruslah bertahan hingga kefuturan futur menyertaimu..
tetaplah terjaga hingga kelesuan lesu menyertaimu..." (ust rahmad abdullah)

Satu hal lagi,jangan katakan "aku harap aku akan berhasil",tapi katakan dan tekadkan "Aku harus berhasil"
Teriakkan :
"Aku ini pemenang...
Aku dilahirkan memang untuk menjadi pemenang"...(engkau berasal dari SATU sel sperma yang berlari menuju ovum yang berhasil mengalahkan ratusan juta sel sperma lainnya,ya engkau memang dilahirkan untuk jadi pemenang teman)
Namun mengapa engkau selalu berfikir kalau engkau itu seorang pecundang?

percayalah...harapan itu masih ada teman...

Yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik,jika engkau sudah berusaha keras dan menjadikan-Nya kekasihmu,

DO YOUR BEST!!!

Semua nasehat menggurui ini kutulis terutama untuk diriku sendiri dan juga untuk mereka yang kehilangan semangat juang

*sumber : facebook Zahrina Hafizhah

Jujur, walaupun aku tidak mengenalmu, tapi terima kasih... tulisan ini membawa efek yang besar bagiku. :)

Sabtu, 21 Mei 2011

SUPERdad

Tanpamu aku tak mampu, menjadi putri yang tumbuh dewasa, ceria, dan bahagia seperti saat ini..
Bagaimanapun dirimu, kau tetaplah seorang hero bagiku...
Tanpamu aku tak mampu, berdiri tegak di atas segala kebimbangan dalam hidupku.
Apapun yang kau alami, kau tetap berwibawa di mataku...
Tanpamu aku tak mampu, berkata tegas dalam setiap pengambilan keputusanku.
Dimanapun dirimu saat itu, tetap kau yang kuingat untuk itu...
Tanpamu aku tak mampu, tersenyum tegar di kala kehidupan memaksaku menangis.
Seperti apapun caramu, kau tetap yang paling bijaksana atasku....

Ayah.. di kala airmatamu mengalir karena sakit yang kau alami, hatiku menjerit dan berteriak histeris.
Aku sibuk bertanya dalam hatiku, adakah cara untuk memindahkan deritamu untuk kutanggung?
Jika ada rasa sakit seperti itu di dunia ini, bagaimana dengan rasa sakit siksaan-Nya di akhirat nanti?
Kau bertanya seperti itu.
Tapi aku tak mampu menjawabnya.
Ayah.. dapatkah kau membagi lukamu walau hanya separuh saja dari penderitaan yang kau alami?
Aku kuat ayah ketika kau baik-baik saja, tapi aku tak mampu tegar dalam sakit yang kuderita ketika aku harus melihatmu yang lemah dan tak berdaya.
Ayah... entah berapa ribu isak dan berapa juta tangis yang tumpah di kala kau terbaring lunglai di ranjang rumah sakit itu.
Akankah kau sadari setiap kepedihan yang keluar dari lisanmu adalah hal yang menyakitkan bagiku, bagi kami semua?
Kumohon ayah.. Bersabarlah.. Kau akan hidup sampai seratus tahun lagi.. kau akan tetap hidup.. aku percaya itu. Tersenyumlah untukku...

Senin, 14 Maret 2011

Kado Terindah

11 Maret 2011

19 tahun. Angka yang cukup untuk menentukan masa depanmu, sahabatku. Serasa mimpi yang terbangunkan. Ingat segala kisah klasik kita di usia muda. begitu menarik, tak ada yang menandingi. Sejenak terharu jika kuingat, ya sekarang ini.. Rasa syukurku yang berlimpah tak pernah berhenti memiliki orang hebat sepertimu, sahabat.. Kau lebih dari kata sahabat yang sering diucap orang. Kau adalah separuh jiwa. Kau hilang, maka separuh jiwaku menghilang, begitulah artinya..

Srie Mustika Rahayu, kuberi nama separuh jiwaku itu.

Jiwa ini selalu mengisi kegembiraan dan kesedihan. Takkan pernah pergi meski jarak memisahkan.

Ya, aku yakin dia separuh jiwaku.

Selamat ulang tahun, Srie Mustika Rahayu,

Separuh jiwaku yang takkan mati. Tetaplah menjadi bagian dari jiwaku, jiwa yang selalu tersenyum dan kokoh berdiri saat halangan mendekatinya. Jiwa yang selalu memberikan kecerahan bagi orang yang merasakannya.. Jiwa yang selalu bersemangat untuk menjadi jiwa yang lebih baik. Jiwa yang tak pernah lelah mengejar mimpinya, ya jiwa sang pemimpi


*seseorang yang mencintaimu karena Allah


PUTRI PRATIWI-

Ini jua merupakan perasaanku padamu, Putri Pratiwi...
Terimakasih...

Rabu, 26 Januari 2011

WAKTU....


Kadangkala saat kita tertawa seperti ini, kita tidak tahu apakah tawa kita akan terus berlanjut sampai renta?

Ketika kusadari dan semakin ku menyadari, bahwa momen yang indah ini tak akan pernah terulang kembali. Yah setidaknya tidak akan sama persis. Walaupun kita ingin mengulangnya lagi, rasanya tetap akan berbeda. Karena manusia berkembang. Waktu terus bergulir. Dan sang waktulah yang membunuh semua kebersamaan ini dengan sebuah samurai perpisahan. Terkadang aku merasa bahwa waktu sama tidak adilnya dengan kesedihan. Di saat kita merasakan hangatnya kekeluargaan dengan perasaan yang selalu berbunga setiap saat, waktu telah merenggut semua itu dan menggantikannya dengan  kesedihan, dan kesedihan dengan sukarelanya hadir memberikan beribu airmata, menghapuskan pendar warna yang selalu terlihat di setiap kebersamaan kami.
Oh sang waktu, tidakkah kau melihat kami bisa menjadi kuat, hanya karena engkaulah yang menyatukan kami, kaulah yang memberikan kami ruang untuk bisa saling tersenyum menghangatkan, tapi kini kau jualah yang mencurinya kembali. Kali ini yang kau berikan hanyalah rasa kehilangan. Kau kosongkan hati ini, membuatnya dingin, pada akhirnya membeku. Jika kau berikan aku kesempatan untuk meminta, dapatkah kau menghadirkan kembali senyum yang dapat mencairkan hati yang telah lama kurasa sunyi? Kumohon jangan berkata ‘tidak mungkin’, karena itu kata yang paling tidak ingin kudengar. Hal-hal yang berjalan di hidupku saat ini selalu berotasi pada kata itu. Ketika aku mencoba meyakini sesuatu, ia datang menghancurkan rasa optimisku, menjadikanku manusia skepstis yang tak mampu hidup tegak dengan rasa percaya diri.
Waktu… dulu, saat aku masih bisa tertawa lepas dan ceria dalam kehangatan kami, tidak pernah aku berprasangka buruk padamu, bahwa kau akan merebutnya secara paksa dan memvonisku untuk merasakan kehilangan dan penyesalan yang amat sangat. Pahit. Jika kau mengerti, waktu.. tak akan pernah ada rasa sesal di hati ini bila kau pun tak memberiku kebebasan untuk melakukan hal bodoh. Tapi bukankah untuk itu pula kau diciptakan oleh Sang Maha Pencipta? Karena tanpa kau, keabadian semu tetap ada. Tak berubah.
Ada kalanya dalam raguku ingin berteriak. Karena aku cukup lelah menghadapi ini semua. Perputaran waktu yang semakin cepat, namun keadaanku yang stagnan, kerinduanku pada kehangatan, penyesalanku terhadap masa lalu, semuanya bercampur menjadi potongan-potongan puzzle yang berserakan dan tak pernah menjadi utuh, karena akupun tak menginginkannya.
Waktu… aku selalu berusaha menghindar dari kalimat ‘penyesalan’, tapi kenapa kau selalu mempertemukanku dengannya? Waktu
Jika kau mau menebusnya, suatu saat, kumohon pertemukan kami kembali...

Kamis, 23 Desember 2010

Kehilangan....

Berkali kali aku coba untuk mengalah, terus begitu, tapi rupanya ini dianggap kelemahan, sehingga kamu terus melakukannya, sudah cukup. Aku tidak percaya lagi dengan kata-katamu. Aku sudah tidak mengenal lagi dirimu. Semuanya antara kita kini asing. Aku tak lagi merasa dekat denganmu. Tak lagi ada rasa hormat. Tak lagi ingin mengagumi. Aku cukup menyadari dan bersyukur Allah masih mengingatkan aku akan kehilangan terbesarku. Dirimu. Aku kehilangan sosok pembimbing yang dulu begitu kupuja. Aku belajar banyak hal. Aku cukup berterimakasih padamu. Tapi aku tak akan lagi merasa harus mendukungmu dan semua idealisme palsumu! Maaf. Tapi aku hanya punya satu maaf untukmu. Jangan meminta lagi. Aku selama ini bertahan. Kutulis surat penuh kasih untukmu karena aku menyayangimu. Aku ingin mengingatkan bahwa apa yang kau lakukan selama ini salah. Kuakui aku seorang masih gadis kecil di matamu. Tapi aku, gadis kecilmu ini, sudah mengerti apa yang harus dia lakukan, ia sudah bermetamorfosis menjadi gadis matang, bukan hanya sekedar wanita lugu dan polos lagi. Kau yang mengajari aku untuk menjadi cerdas. Aku mengikutimu. Caraku dan caramu sama. Dulu. Tapi tidak ingin kuakui itu sekarang. Aku terlampau muak. Aku terlalu jijik untuk merasa mirip denganmu. Tolong mengerti. Kau sudah bukan siapa-siapa bagiku. Aku sudah lelah mencoba memahami akan semua topeng palsu yang kau kenakan, dan kini, kupilih jalanku sendiri.....

Rabu, 08 Desember 2010

Just be my self

Saat kita kecil, pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang dewasa adalah 'kalau sudah besar mau jadi apa??'
Ada banyak jawaban. Bermacam-macam. Tapi jawaban yang terbanyak adalah 'mau jadi dokter' dengan kepolosan yang sama. Hampir semua anak kecil bercita-cita seperti itu. Begitupun gw. Tapi sekarang, jika masih ada yang mengajukan pertanyaan sama,  gw akan jawab 'mau jadi diri sendiri'  dan berharap orang yang bertanya tersenyum puas dengan jawaban itu. Pikirkan.

Biarkan semuanya mengalun sesuai nada takdirnya. Aku tak berharap muluk, hanya bermimpi, namun tak ingin mimpi itu menghancurkan keteguhanku. Keyakinan akan tangan Tuhan yang akan selalu terulur ketika aku percaya pada ketetapan-Nya yang selalu akan menjadi hal terbaik.
Pernah gw mencoba bertanya pada diri sendiri, 'Apakah kamu percaya pada Takdir?'  dan jawaban yang kudapat 'aku masih bingung, dapatkah manusia mengubah takdirnya??'. Tak mudah untuk menemukan jawaban dari rasa ingin tahuku. Perlu perjalanan. Panjang. Penuh alang. Dan gw sama sekali masih jauh dari kata tercapai. Sampai sekarang terkadang gw sering merenung, apa yang membuat orang rela mengorbankan kedamaian hidupnya hanya demi harta?? Obsesi yang berlebihan terhadap kesenangan dunia. Padahal itu semua fana. Gw heran, kenapa anak-anak jaman sekarang saling berlomba dalam prestise, selalu menonjolkan status sosial. Pembicaraan mereka selalu soal harta yang padahal sama sekali bukan milik mereka. Gw selalu meracau sendiri, 'Woooy! Masih ngemis ama orangtua aja sombongnya tulung-tulungan lo!' ketika gw liat remaja-remaja ababil yang menenteng-nenteng provider ciri sosial mereka, memamerkan bahwa 'gue orang kaya', tapi pikiran mereka dangkal, wawasannya NOL besar, gak punya social sense, tapi omongnya besar minta diazab. Gw juga gak sempurna meeen, tapi seenggaknya gw gak selalu ngoceh 'gak ada waktu buat memikirkan oranglain'. Emang lo pikir lo hidup sama semut doang? Sadar doooong! Kalo lo mau hidup mengurusi diri sendiri aja, mending lo hidup sama serangga-serangga yang gak butuh bantuan lo.

Dan akhirnya gw pun mengerti. Bahwa sebenarnya hidup ini sederhana jika kita memandangnya dengan sederhana pula. Sementara sebaliknya pula, ketika kita memandang hidup ini sebagai keagungan dan kemewahan, gak akan ada habis-habisnya kita mengejar itu semua. Gak ada kepuasan sama sekali. Padahal keglamouran itu terus menerus selalu bertambah, sehingga ketika anda tak mampu lagi meraihnya, bersiap-siaplah untuk jatuh, amat dalam, anda akan terpuruk sampai-sampai anda menganggap bahwa kematian lebih baik bagi anda. Well, berbeda dengan orang yang memandang sederhana hidup, mereka adalah orang-orang yang selalu mensyukuri hidup ini. Ketika mereka jatuh, mereka yakin itu adalah anugerah dari Tuhan yang percaya pada kekuatan mereka menghadapi kerasnya kehidupan di tengah arus kemewahan dunia. Dan mereka merasa cukup dengan bersyukur. Sekarang anda tinggal pilih, mau masuk golongan yang mana. Semuanya hanya tinggal pilihan.
--end--

Semua manusia tercipta memiliki jalan hidup masing-masing. Tak selalu indah. Pasti suatu saat akan  kehilangan arah. Saat itulah manusia selalu mengeluh. Mencaci. Meratapi diri. Menyalahkan Tuhan. Memvonis Dia tak adil. Tak terkecuali. Sungguh semuanya pasti pernah mengalaminya. Merasa diri kita yang paling tidak beruntung, padahal Tuhan masih memberi kehidupan dan sudah seharusnya kita bersyukur. Hidup memang tak mudah. Sulit pun sebenarnya hanya hakikat. Namun sesungguhnya hidup ini sederhana, jika kita memandangnya dengan sederhana pula.  Makin dewasa manusia, semakin tinggi alang yang menunggunya. Tapi kita pun semakin kuat, semakin tegar, semakin menyadari bahwa sejatinya hidup adalah tantangan. Perjuangan. Pengorbanan. Pengabdian. Dan kita pun bisa memilih mau menjalaninya seperti apa.
.

*Jangan mengeluh. Karena kita tidak bisa memilih dimana kita dilahirkan. Bersyukurlah.  #untuk semua  orang yang merasa hidupnya kurang beruntung karena status sosial.

Selasa, 19 Oktober 2010

FUTUR

Pada siapa harus kuadukan dukaku?
Sementara sepi mendera jiwaku
ragaku pun tak mampu menepis lara yang menghantam dan meremukkan tulangku
Haruskah aku mencari pembelaan?
Namun, pada siapa?
Tak ada yang bisa meluluhkan nurani ini untuk dapat menitipkan kepedihan yang kurasa kian menjelma memutuskan asa
Diaini aku benar-benar belajar tentang hal-hal yang tak bisa kuraih hanya dengan sebuah senyuman
tak bisa kugapai meski bibir ini kelu hanya untuk menghiaskan kata 'maaf'

Rabbi, aku tau berjuta perasaan yang merajut benang-benang kusut dalam qalbu ini tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang telah kuperbuat untuk mengkhianati kemurahan-Mu
Apa dayaku bila Engkau telah berkehendak?
Jika ini bentuk pembalasan yang harus aku terima agar aku menyadari arti syukur yang seharusnya sudah sejak lama kupahami
maka kuikhlaskan segenap ruh ini untuk Kau uji dengan cobaan yang selayak-layaknya
Engkau tahu akupun lemah terhadap ujian-Mu, tapi Kau kuatkan aku dengan izin-Mu.
Subhanallah. Allahu Akbar.
Betapa aku kerdil di hadapan-Mu yaa Malik..