Kamis, 01 Maret 2012

11 Februari 2012
Dekan FEUI : Kepada para pendamping, orang tua, pacar, calon pacar. Para mantan mahasiswa calon sarjana, dimohon untuk berdiri dan memberikan applause untuk para orang tua kita di luar... Karena tanpa kasih sayang mereka, kalian tidak akan berada disini...
Ssrr.. Cucuran air mata jatuh di kedua pipi Ibuku...

Akbar Nikmatullah (mantan Ketua BEM FEUI) : Motif salah satunya dari semua teman-teman disini adalah untuk mempersembahkan kebanggaan bagi para orang tua... Dan bersyukurlah bagi semua orang tua yang diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melihat para anaknya dengan penuh kebanggaan. dan bagi orang tua yang tidak diberikan kesempatan, saya yakin, dimanapun mereka berada, mereka melihat, bangga dan terharu anaknya disini telah lulus menjadi sarjana FEUI.
Tess... Airmata kedua menggenang di pelupuk mata ibuku.

18 Februari 2012
Lihatlah Apa, kau saksikan anakmu berdiri disana memakai toganya dengan penuh kebanggaan. Jerih payahnya selama ini telah berbuah kesuksesan meraih gelar sarjana ekonomi. Pernahkah kau bayangkan di masa hidupmu bahwa ia berdiri disana tersenyum lega penuh bahagia tanpa kau di sampingnya? Bisakah kau rasakan kebahagiaannya bercampur dengan kegetiran dan mungkin sedikit penyesalan karna tak sempat ia dapatkan peluk kebanggaan dan airmata penuh cinta dibasuh haru darimu? Apakah mungkin kau disana ikut tersenyum bahagia melihat putra kebanggaanmu ini berhasil mendapat ijazah dari Universitas Indonesia 20 hari pasca kepergianmu? Apa boleh aku punya penyesalan serta tuntutan dalam pertanyaanku, 'mengapa secepat itu?'
20 hari dari masamu, putramu akan mengalami hari yang paling membahagiakan dalam sejarah hidupnya. Paling bahagia? Ya. Seharusnya. Jika kau ada disini. Jika kita lengkap. Takdir? Bukan. Ketetapan Tuhan? Ya. Aku terima.

Sabtu, 07 Januari 2012

Akhir lembar pilu. Janjiku.

25 desember 2011
Apa aku punya kesempatan untuk melihatnya terlepas dari penderitaan ini?
Apa aku akan bisa menyaksikan kebahagiaan yang telah lama tidak ia cicipi?
Bagaimana caraku untuk bertahan?
Apa aku sanggup terus menerus dalam kesakitan ini? Kesakitan karena harus menerima belas kasihan dari semua orang. Padahal aku selalu ingin menjadi cahaya dalam kegelapan bagi mereka, namun kenapa malah aku yang terkurung dalam gelap?
Begitu menyedihkan. Begitu malu diri ini. Pada diri sendiri, pada Tuhan, pada mereka yang tidak pernah mengeluh meski nestapa telah lama bertapa dalam kungkungan derita hidup.
Tuhan, berikan cara, berikan kesempatan, kekuatan untukku mampu mengucapkan selamat tinggal pada keputusasaan.
Pertanyaan mengapa seperti ini, mengapa aku dan keluargaku, mengapa tak kunjung usai, apa harus terus menerus bersemayam dalam hati dan fikriku?
Saat aku bersyukur, cobaan kembali datang, jauh lebih hebat, aku meyakinkan diri bahwa aku kuat.
Namun timbul pertanyaan lain, apakah aku betul-betul kuat, ataukah hanya pura-pura kuat???

26 desember 2011
Bila masaku telah habis untuk mengecap pahit kehidupan ini, akan kuceritakan pada siapapun yang mau mendengarnya, inilah hidup.... selalu ada persaingan dalam setiap episodenya. Persaingan untuk berjuang, bertahan, dan menjadi pemenang. Bagaimana akhirnya diriku? Akankah menjadi pemenang dan memenangkan pertarungan melawan ketidakberdayaan? Ataukah kalah dan tak mampu mengalahkan samurai peperangan hidup, yakni kesusahan? Jadikah aku seorang pecundang?

Jumat, 06 Januari 2012

Ayah...

9 November 2011
Kupandangi wajah tuanya yang semakin tirus. Tubuhnya hanya dilapisi kulit tipis dengan tulang yang menonjol disana-sini. Dia tampak gemuk. Ya, di beberapa bagian. Bukan karena lemak daging yang sehat. Namun cairan dari kantung kemihnya yang pecah menyebar di beberapa bagian tubuhnya secara tidak merata. Perutnya membesar. Disitulah tempat paling utama cairan itu berkumpul. Cairan itu berhasil membengkakkan kakinya. Seakan seluruh bebannya bertumpu di kaki. Dari lingkaran perut hingga ke punggung cairan itu mampu membuat bagian disana keras dan sulit untuk disentuh. Bagian perut hingga bawah yang tampak membesar itu betul-betul tidak seimbang dengan lengan hingga atasnya yang telah habis dikhianati penyakit. Sungguh miris melihatnya. Ia telah kehilangan keperkasaannya yang dulu sempat sekedar mampir di hidupnya. Aku merasa sangsi. Lelaki inikah yang dulu menggendongku dengan rentangan tangannya yang kekar? Diakah laki-laki gagah yang dulu mengajakku berlibur setiap akhir pekan? Tuhan... kuraih tangannya dan kucium pipi serta keningnya.
Kurasakan jemarinya yang kurus dan tanpa daya. Ia berkata-kata, namun matanya lebih menjelaskan banyak hal. Aku tahu  kelegaannya melihatku. Ekspresinya sedikit melunak dari wajahnya yang tampak mengeras menahan sakit. Nafasnya satu per satu. Keluar melalui mulut hingga mengeluarkan suara tidak enak dari hidungnya. Rupanya cairan itu membuat satu-satunya lelaki dalam hidupku ini sulit bernafas. Aku menamainya cairan laknat. Si laknat ini telah memenuhi paru-paru ayahku. Aku membisu. Kualihkan perhatianku pada perempuan paruh baya di sampingnya. Ia tersenyum letih. Aku menghampirinya. Ia memelukku hangat dengan kata-katanya yang lembut. Kurasakan tulangku langsung bersentuhan dengan tulangnya. Bahunya tidak berdaging. Wajahnya tak kalah tirus dengan ayahku. Tulang pipinya menonjol. Matanya cekung ke dalam. Tampak jelas gurat kelelahan luarbiasa disana. Namun kekuatan dan ketegaran terlihat dari pancaran matanya yang teduh dan senyumnya yang berusaha tetap ia tampilkan. Suguhan yang memilukan.
Aku keluar dari pemandangan itu segera. Amat takut mataku terlihat basah, namun beruntung hujan telah menyamarkannya. Aku berkeliling rumah. Kosong. Bahkan suaraku menggema di ruangan manapun. Bau rumah ini khas. Parfum yang biasa tercium di rumah sakit. Ya, bau obat, bau pesing dan semacamnya. Tentu saja, rumah ini sudah seperti rumah sakit dengan ibuku sebagai perawatnya. Beruntung ia seorang yang hebat. Bagiku, ia adalah wanita multitalent. Bukan karena ia wanita jaman sekarang yang berkarir dalam segala hal. Namun karena bakti dan pengabdiannya kepada keluarga. Ia bisa berperan sebagai ibu bagiku, isteri bagi ayahku, sebagai anak untuk nenekku, dan sebagai perawat bagi keduanya. Ia adalah simbol ketabahan tiada tara. Kesabarannya tak memiliki batas. Aku sungguh ingin sepertinya. Aku bersyukur memilikinya. Perempuan itu tidak pernah mengeluh atas hidupnya, tak pernah menyerah pada nasibnya. Hidup bersama seorang suami yang menderita sakit selama empat belas tahun bukanlah yang yang mudah dijalani setiap wanita. Tapi ia berhasil membuktikan ia mampu melakukannya. Sungguh, padahal hari-hari berat yang ia lalui tak kunjung berakhir. Sudah tak kuasa berkata apalagi rasanya jika teringat wajahnya yang semakin lelah.
Tuhan.. sampai kapan semua ini harus kami jalani?
Awal semester kuliah yang begitu berat bagiku. 2011 penuh duka untuk keluargaku. Di tahun ini entah sudah berapa belas kali Ayahku bolak balik menghuni bangsal-bangsal rumah sakit. Menjalani operasi yang berat di ibu kota. Menghabiskan banyak waktu untuk pemulihan, namun kesembuhan itu tak segera datang. Hampir putus asa aku dibuatnya. Biaya berpuluh-puluh juta habis untuk pengobatan. Mungkin sebagian simpanan untuk kuliahku.  Aku ikhlaskan. Bahkan sejak mengawali 2011 dengan kondisi ayahku yang seperti itu, aku telah bersiap. Sejak aku mengikuti ujian SNMPTN sementara ibuku berdo’a tiada henti untuk ayahku yang dalam keadaan tidak sadar di RS. Saat anak-anak lain diantar ke tempat ujian dan disemangati oleh para orangtuanya dengan keceriaan mereka. Dalam kepahitan itu aku sadar, aku sudah harus mandiri. Aku tidak boleh bergantung pada orangtuaku. Kucari sendiri dimana motivasi untukku bertahan. Akhirnya aku sadar, aku hanya boleh mengandalkan diri sendiri. Aku tidak bisa menyimpan asaku pada orang lain. Biar hidupku berjalan tetap pada relnya. Sehancur-hancurnya diriku, dalam kondisi apapun aku harus meyakinkan diriku sendiri bahwa aku mampu. Bertahan dalam ketiadaan. Berdamai dengan keterbatasan. Aku tidak bisa membawa lari masalahku pada keluargaku sendiri. Sudah terlalu banyak beban yang mereka tanggung. Ibuku... kakak-kakakku. Aku mengerti mereka sudah cukup diuji. Maka aku hanya bisa sendiri. Terpekur dalam kebimbangan menentukan jalan.

10 November 2011
Kuamati ia ketika tidur. Mulutnya terbuka. Racauannya tidak jelas. Seakan berbicara dengan seseorang dalam imajinasinya. Semakin kudengarkan baik-baik ternyata ia sedang mengoceh tentang masa lalunya. Seolah rekaman kaset masa lalunya diputar kembali. Tangannya tidak mau diam. Terus bergerak mengikuti bibirnya yang tak henti meracau. Aku enggan untuk menangis. Sudah cukup rasanya. Dokter bilang cairan itu telah pula masuk ke otaknya dan mengganggu fungsi syaraf otak hingga membangunkan memori masa lalunya,masa dimana yang paling ia inginkan kembali. Aku menghela nafas panjang. Betapapun inginnya aku menyabarkan dirinya, namun batal oleh rasa ketidakmampuanku menjawab kemauannya. Kulihat ia tampak meringis. Tangannya memegangi paha kurusnya. Tampak hati-hati di bagian itu. Ibuku bilang, buah zakarnya pun telah membesar bagaikan sebuah balon. Cairan itupun ternyata berani masuk kesana. Itu sebabnya ia sulit untuk duduk, berjalan, bahkan tidur nyenyak.  Terkadang ia terbangun dan merasa sesak, ibuku segera memasukkan selang oksigen untuk membantu ia bernafas. Sungguh aku merasa geram. Apa maunya laknat itu?

Kuoleskan lotion ke seluruh permukaan kulitnya yang kasar. Menyentuhnya seperti memanjakan ular bersisik. Hatiku teriris. Ketika sampai pada bagian tubuhnya yang keras, ingin rasanya aku membeleknya, mengeluarkan cairan itu dari sana. Kupijat lembut kakinya yang sudah sangat bengkak.  Tempurung lututnya kini seperti kelapa berukuran besar  yang telah dikupas cangkangnya. Telapaknya ikut membesar, jari-jari kakinya tak mampu digerakkan. Masih tampak jelas tanda bekas operasi pada punggung kaki kirinya. Disitulah tempat rasa sakit tak berani mengusiknya. Mati rasa. Begitulah. Semut yang mengerubungi saat kakinya diinjakkan di ubin pun tak dirasanya.
Fokusku beralih ke kepalanya. Kutelisir rambutnya yang telah menipis. Mencari helai demi helai yang berwarna putih. Kulihat telah banyak disana. Biasanya tak sebanyak ini. Rupanya usia telah memudarkan si hitam. Kini putih ingin menggantikannya. 55 tahun. Dengan 14 tahun yang ia habiskan untuk melawan penyakitnya ini. Rasanya sungguh wajar jika ia telah kehilangan banyak perhatian untuk hal-hal kecil. Cermat kuambil satu per satu helai putih itu dengan menggunakan vinset. Aku sudah berkali-kali mengingatkan ia untuk tidak mencabutinya. Biarlah rambut putih itu menerangi kuburnya nanti jika ia seorang yang soleh. Namun ia bersikukuh. Pengalih perhatian, ia beralasan. Tipis sudah kini si hitam ikalnya.

11 November 2011
Perlahan kuraih tangannya dan kupegangi dengan erat. Kuamati kuku-kukunya yang mulai memanjang. Kuambil catut untuk memotongnya. Kuusap-usap pergelangan tangannya. Sedang membandingkan. Apa bedanya dengan tangan kurusku? Mungkin bedanya hanya, aku masih sanggup dan kuat sekadar mengulurkan tangan, sedang ia tak mampu. Satu per satu kubersihkan kuku-kuku panjangnya yang berwarna kekuningan. Buah dari hepatitis yang turut mencintai tubuhnya. Hati-hati kuku demi kuku kupotong rapi, jika sampai ia terluka akan bahaya untuknya. Sedikit luka saja akan membuat masalah baru. Itulah kejamnya diabetes mellitus. Ah! Tanpa sadar aku mengenai kulit kukunya yang lunak. Darah langsung merembes keluar. Tuhan.. kulihat segera wajahnya yang tertidur namun tak nyenyak. Tak ada perubahan sama sekali. Tak ada kernyitan, rintihan, gumaman atau apapun. Ia tak merasakannya. Bergegas kuambil kapas dan rivanol. Kubersihkan dan kutekan agar darah segera berhenti. Untung hanya luka kecil sama seperti yang keluar setiap kali ia cek gula darah. Aku bernafas lega.

Tiap malam aku hampir tidak dapat tidur pulas. Rumah ini tidak bisa memberikan ketenangan yang diinginkan penghuninya. Dengan suara ayahku yang merintih dan berdzikir melawan rasa sakit, aku betul-betul tidak mampu untuk tidur nyaman. Terlebih aku tidur tanpa memakai selimut dalam hawa pegunungan ini. Semua selimut di rumah dipakai untuk ayahku yang selalu merasa kedinginan. Jika sudah begitu aku segera beranjak dari tempat tidur, kuambil air wudlu yang sedingin es. Aku tak berani masuk ke kamarnya sekalipun ingin. Aku takut ia merasa lebih tersiksa karena sadar suaranya telah mengusik tidur yang lain. Aku tak mau lagi melihat kesedihan di mata tuanya. Tak sanggup lagi tegak untuk sekedar melihat langsung wajah sakitnya. Rasanya ingin sekali membagi rasa sakit itu. Jikalau bisa, biarlah tubuh ini yang merasakan derita, supaya satu malam saja ayahku bisa tertidur lelap, tenang dan mengecap indahnya mimpi sehingga sejenak ia bisa terbebas dari nestapanya. Tuhan... jika azab di dunia saja sudah sedemikian rupa, bagaimana dengan azabMu di akhirat nanti? Aku hanya berdo’a semoga dengan sakitnya ini Engkau telah membersihkan dosa-dosanya dan menggantikannya dengan pahala sebagai hadiah atas kesabarannya. Amiin. Cukup di dunia saja Tuhan. Hatiku terlampau pilu demi menyaksikan ini semua.

12 November 2011
Tiga hari saja di rumah menimbulkan kelelahan yang tak ringan. Rasa capai yang melebihi dari mengurus bayi. Benar ibuku bilang, masih lebih mudah merawat cucunya dibanding ayahku. Aku semakin kehilangan kata-kata untuk menggambarkan betapa letihnya menjadi ibuku. Jika membayangkan ia yang sendirian membopong ayahku kesana kemari dengan berat badannya yang hampir 80 kg, rasanya sulit untuk menahan tangis yang sudah pasti pecah. Dengan tubuh sekurus diriku, mampukah ia menjalani ini sendirian? Sempat terbersit dalam pikiranku untuk tetap di rumah menemaninya merawat ayah. Biar saja aku yang mengalah untuk memulai kuliah disini. Biarlah aku segera terbangun dari mimpi besarku. Yang harus kuhadapi adalah dunia nyata. Bukan bumi khayalan semata.  Aku harus menyadari keadaanku sekarang. Meski jauh dari apa aku bayangkan dan kuinginkan, namun setidaknya aku akan mampu menjemput kebahagiaanku dengan jalan yang lain. Mengabdikan hidup pada orangtuaku mungkin bisa jadi jalan menuju itu. Sebagai wujud baktiku pada mereka, aku ingin menemani ayahku hingga betul-betul sembuh. Rasanya setiap detik waktu berharga untuk bisa lebih lama bersamanya. Aku merindukan ayahku yang dulu. Yang mampu berjalan tegap dan tidak pernah berdiam diri di rumah. Yang tak pernah kehabisan ide untuk bepergian. Yang selalu mengajakku berdua berjalan-jalan mencari bibit-bibit tanaman dan pohon. Aku rindu ayahku yang selalu menyetir sendiri kemanapun ia pergi, yang selalu mengambil raporku ke sekolah, yang mengantar jemputku ke tempat kegiatan-kegiatan yang aku ikuti. Aku rindu ayahku yang menasihatiku setiap kali aku pulang larut
 Aku merindukan shalat berjamaah yang rutin kita laksanakan dulu. Aku rindu kau menjadi imam keluarga kita. Aku rindu taushiyahmu tiap kali kita selesai shalat berjamaah. Aku rindu ayat-ayat kauliyah yang kau bacakan dalam shalatmu, rindu pada suara lantangmu ketika mengimami dan ketika mengaji. Aku rindu mencium tanganmu setelah selesai shalat. Sungguh aku rindu menjadi shafmu. Aku rindu...
Kini, untuk bangunpun kau tak mampu. Shalatpun tak lagi bisa kau kerjakan. Lima tahun sudah tak pernah lagi ada rutinitas itu. Dan aku melihat tahap perubahan itu. Dari mulai kau sudah tak lagi mampu shalat berdiri, sehingga kau lakukan sambil duduk, hingga kini kau hanya bisa berbaring. Tahun lalu kau masih bisa mengikuti shalat ied meski hanya sambil duduk. Tahun ini kau duduk di kursi roda, dan saat semangatmu membara untuk shalat ied, segera kau menyadari bahwa kau tak mampu. Kulihat wajah sedihmu yang membiarkan kami semua pergi untuk shalat. Itu membuat hatiku pedih. Saat kita foto keluarga bersama, tahun ini dan tahun lalu masih tetap sama. Kau dan ibu duduk di depan, sementara kami anak-anakmu berdiri di belakang, sama aja. Sekilas memang sungguh tampak sama, tapi begitu jeli lagi, lihatlah kursi yang kau duduki, berbeda. Sekali lagi kukatakan, tahun ini kau duduk di kursi roda, bukan kursi biasa lagi. Kini hatiku menjerit. Aku tahu waktu tak mungkin bisa diputar kembali, tetapi bukankah kita bisa tetap mengubah keadaan sama seperti dulu, bahkan lebih baik? Bukankah kita bisa membuat moment yang lebih indah? Aku mau mengukirnya kembali. Sangat ingin. Kau pun tentu ingin kan? Baik, aku akan menunggu. Akan kutunggu kau kembali perkasa. Sama seperti dulu. Ayah.......
kembalilah mendampingi isterimu seperti ini

Senin, 24 Oktober 2011

Romantisme-ilusi => Kritisme-f

Ini cerita bukan sekadar cerita. Ini penuh dengan romantika kehidupan, tapi bukan hanya sekadar romantisme kesadaran palsu, ataupun romantisme ilusi lho. Ini semua cerita indahnya kita para pemilik mimpi dan cita-cita besar, ciee. Mungkin tidak semua orang bisa mengerti, tapi ya lah tidak ada salahnya kawan kalian membaca coretan ini. Aku ingin mengatakan bahwa ini adalah sebuah tulisan, tapi beh malunya minta ampun kalau aku mesti bilang ini sebuah karya, ssst masalahnya adalah salah satu tokoh dalam cerita ini seorang penulis besar men! Penulis besar! Nanti akan aku ceritakan belakangan. Well, mari kita simak.
Berawal dari sebuah cita-cita besar dan loyalitas mahatinggi yang dimiliki oleh seorang kakak kelas kita, Susan Agustin, yang setiap saat selalu mencekoki kita semua untuk ikut simposium nasional di UGM, akhirnya kita pun terpedaya oleh semua rayuannya. Cus.. berangkatlah kita dengan persiapan cukup matang, dengan berbekal seorang filsuf yang dengan sengaja dibawa untuk menyerang acara itu, kitapun melangkah maju.

Senin, 17 Oktober 2011

Tulisan Pertama Anak Magang

Merdeka, seperti apa?
Oleh : Srie Mustika Rahayu
Kemerdekaan bukan saja ketika merah putih mampu berkibar,
namun ketika penindasan tak lagi berkobar
Anak kecil itu manis. Senyumnya cukup menawan walau sang kotor telah mengkhianatinya. Telapak tangannya menghadap ke atas, dengan wajah yang penuh coreng, lirih ia berbisik, “Mbak, minta uang mbak..”
Di taman kota. Pemandangan seperti ini menjadi hal yang terlalu biasa bagi mata kita. Ada yang lainnya. Begitu banyak malah. Miris menjadi perasaan yang begitu klise. Ini baru di satu kota. Entah berapa banyak lagi anak-anak yang seperti dia di belahan bumi yang lainnya. Tak perlu jauh-jauh, Indonesia saja. Betapa untuk menghitungnya pun rasanya butuh kesabaran yang luar biasa. Bagaimana bisa anak-anak sekecil itu sudah dididik untuk meminta-minta? Disaat seharusnya mereka duduk manis di kelas, memperhatikan guru mengajar, bermain dengan lincahnya, mereka malah berada di jalanan yang panas, beralaskan kulit telapak kaki. Dimana orang tuanya ketika itu?
            Negeri ini tampaknya belum mampu mewujudkan cita-citanya. Apa yang tercantum dalam undang-undang dasar 1945 sepertinya masih jauh dari kata ‘tercapai’. Merdeka, dimana realisasinya ketika masih ada penjajahan terhadap budaya, ideologi dan identitas bangsa? Bersatu, banggakah bangsa ini disebut sebagai bangsa yang bersatu sementara masyarakatnya apatis, satu sama lain saling menjatuhkan? Berdaulat, kedaulatan seperti apa yang selama ini disajikan oleh para penguasa? Adil, pantaskah negeri ini berbicara tentang keadilan sedang banyak warga Negara yang tidak mendapatkan pekerjaan yang layak dan pendidikan yang tinggi? Makmur, bisakah kita melihat kemakmuran di negeri ini ketika rakyat yang miskin dan kelaparan semakin bertambah jumlahnya?
            Lalu apa artinya semua yang selama ini mereka dengungkan? Apakah para wakil rakyat itu sudah menjalankan fungsinya dengan baik? Benarkah mereka betul-betul memikirkan rakyat? Apa hanya untuk menyejahterakan diri mereka sendiri? Lantas kemana lagi rakyat yang dirampas haknya harus meminta keadilan? Pada siapa lagi mereka mengadukan perlakuan yang mereka terima dari tanah air mereka sendiri? Bukankah ibu pertiwi akan marah melihat negerinya ini?
            Ada begitu banyak orang yang berteriak atas nasib mereka yang tertindas, namun lebih banyak pula yang bersikap acuh tak acuh. Apa jadinya bangsa ini ketika sudah tidak ada lagi kepedulian disini? Bangsa yang selalu bangga dengan demokrasinya. Bangsa yang ‘katanya’ menjunjung tinggi hak asasi manusia. Bukankah pantas kita mempertanyakan perwujudan dari dasar negara kita? Jika kita flashback ke belakang, tentang bagaimana rumitnya para pendahulu kita merumuskan dasar Negara dengan begitu beragamnya ide dan pemikiran, maka sangat mustahil kita tega mengingkarinya. Mengambil salah satu sila dari dasar Negara yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, rasanya masih perlu perjuangan yang berat untuk dapat mencapainya.
Realistis saja, kita sendiripun masih selalu bingung jika ditanya tentang keadilan. Merasa sudah adilkah kita ketika bergumul dengan kegiatan kampus, berkutat dengan tugas-tugas, asyik menjalani kehidupan sebagai seorang ‘mahasiswa’, sementara di luar sana ribuan bahkan jutaan anak seusia kita hanya mampu melakukan semua itu dalam mimpinya? Lebih tragis lagi anak-anak yang bahkan untuk bermimpi sajapun mereka tak mampu.
            Maka, dapatkah sekarang kita mengatakan bahwa Negara kita sudah merdeka? Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka dari penjajahan? Belum kawan. Kita belum merdeka. Leluhur kita Jenderal Soedirman pernah berkata, “Lebih baik dihujani bom atom, daripada merdeka kurang dari 100%”. Menjadi tugas kitalah sekarang sebagai seorang pemuda tunas bangsa untuk memerdekakan bangsa ini. Melanjutkan perjuangan para pahlawan kita, tanpa darah dan senjata lagi.
Tugas para pahlawan dahulu adalah mudah, hanya mengusir penjajah. Tugas kitalah sebagai generasi penerus yang tak mudah, yakni mempertahankannya. Begitulah Soekarno pernah mengungkapkannya. Jadikan bangsa ini sebagai bangsa yang merdeka dalam substansi yang sesungguhnya. Jika Soekarno bisa mengatakan, “100 orang tua hanya bisa bermimpi, 1 orang pemuda bisa merubah dunia”, maka apa alasan kita untuk tidak percaya pada kekuatan kita sebagai seorang pemuda??
            Jangan pernah membiarkan penjajah memasuki tanah air ini. Jangan biarkan merah putih terluka lagi. Jangan biarkan identitas kita dijajah, budaya kita dijarah.
“Mereka tidak dapat mengambil harga diri kita kalau kita tidak memberikannya kepada mereka” –Mahatma Gandhi-

Minggu, 24 Juli 2011

Untukmu yang kehilangan semangat juang

Teman,
Ketika kehidupan memberi kita seribu alasan untuk mengeluh,tunjukkan bahwa kita memiliki sejuta alasan ntuk semangat.
Jangan lemah teman,masalahmu belum seberapa.
Semua masalahmu sudah diukur oleh Allah,
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya" (QS Al-baqarah : 286)

Tetaplah bekerja keras teman
"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan),tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)" (QS Al-insyirah : 7)
Semua orang sukses adalah mereka yang bekerja lebih keras dari biasa.
Mereka yang belajar lebih keras dari biasa.
Mereka yang bangun lebih dini dari biasa.
Mereka yang rela keluar dari zona nyaman.
Mereka yang paham betul makna hidup itu sejatinya memang perjuangan,

Karena mereka tahu dan paham betul pepatah "Berakit2 kehulu berenang-renang ketepian,bersakit-sakit dahulu bersenang2 kemudian"
Berjuang,berjuang,berjuang,
karena hidup itu adalah perjuangan.
Tidak berjuang,berarti tidak hidup.

Meskipun demikian,
Tidak semua orang yang berusaha keras itu akan sukses...
Tapi semua orang yang sukses itu berasal dari usaha keras...
Tetaplah berjuang...meski kerap kali menelan pil kekalahan...
Tetaplah semangat...meski rasa malas semangat menyemangatimu...
Tetaplah berdoa...meski malaikat mendoakanmu...
Tetaplah berharap...karena harapan itu masih ada...

Lebih baik banyak menangis sekarang...
sebelum tangisan itu tiada lagi berguna...

"teruslah bergerak,hingga kelelahan lelah mengikutimu..
teruslah berlari hingga kebosanan bosan mengejarmu..
teruslah berjalan hingga keletihan letih bersamamu...
teruslah bertahan hingga kefuturan futur menyertaimu..
tetaplah terjaga hingga kelesuan lesu menyertaimu..." (ust rahmad abdullah)

Satu hal lagi,jangan katakan "aku harap aku akan berhasil",tapi katakan dan tekadkan "Aku harus berhasil"
Teriakkan :
"Aku ini pemenang...
Aku dilahirkan memang untuk menjadi pemenang"...(engkau berasal dari SATU sel sperma yang berlari menuju ovum yang berhasil mengalahkan ratusan juta sel sperma lainnya,ya engkau memang dilahirkan untuk jadi pemenang teman)
Namun mengapa engkau selalu berfikir kalau engkau itu seorang pecundang?

percayalah...harapan itu masih ada teman...

Yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik,jika engkau sudah berusaha keras dan menjadikan-Nya kekasihmu,

DO YOUR BEST!!!

Semua nasehat menggurui ini kutulis terutama untuk diriku sendiri dan juga untuk mereka yang kehilangan semangat juang

*sumber : facebook Zahrina Hafizhah

Jujur, walaupun aku tidak mengenalmu, tapi terima kasih... tulisan ini membawa efek yang besar bagiku. :)

Sabtu, 21 Mei 2011

SUPERdad

Tanpamu aku tak mampu, menjadi putri yang tumbuh dewasa, ceria, dan bahagia seperti saat ini..
Bagaimanapun dirimu, kau tetaplah seorang hero bagiku...
Tanpamu aku tak mampu, berdiri tegak di atas segala kebimbangan dalam hidupku.
Apapun yang kau alami, kau tetap berwibawa di mataku...
Tanpamu aku tak mampu, berkata tegas dalam setiap pengambilan keputusanku.
Dimanapun dirimu saat itu, tetap kau yang kuingat untuk itu...
Tanpamu aku tak mampu, tersenyum tegar di kala kehidupan memaksaku menangis.
Seperti apapun caramu, kau tetap yang paling bijaksana atasku....

Ayah.. di kala airmatamu mengalir karena sakit yang kau alami, hatiku menjerit dan berteriak histeris.
Aku sibuk bertanya dalam hatiku, adakah cara untuk memindahkan deritamu untuk kutanggung?
Jika ada rasa sakit seperti itu di dunia ini, bagaimana dengan rasa sakit siksaan-Nya di akhirat nanti?
Kau bertanya seperti itu.
Tapi aku tak mampu menjawabnya.
Ayah.. dapatkah kau membagi lukamu walau hanya separuh saja dari penderitaan yang kau alami?
Aku kuat ayah ketika kau baik-baik saja, tapi aku tak mampu tegar dalam sakit yang kuderita ketika aku harus melihatmu yang lemah dan tak berdaya.
Ayah... entah berapa ribu isak dan berapa juta tangis yang tumpah di kala kau terbaring lunglai di ranjang rumah sakit itu.
Akankah kau sadari setiap kepedihan yang keluar dari lisanmu adalah hal yang menyakitkan bagiku, bagi kami semua?
Kumohon ayah.. Bersabarlah.. Kau akan hidup sampai seratus tahun lagi.. kau akan tetap hidup.. aku percaya itu. Tersenyumlah untukku...